Yogyakarta, 07 Desember 2013

Jogja-Netpac Asia Film Festival yang ke delapan, menghadirkan beragam acara menarik. Selain kompetisi film dengan tema “Altering Asia” dalam pergelaran ini juga dihadirkan beberapa sesi seru lainnya, diantaranya forum komunitas dan public lecture. Pubic lecture dalam perhelatan ini menjadi menarik karena dalam sesi ini para pengunjung dapat banyak ilmu dan pengetahuan, serta bisa berdiskuai dengan speakers yang memang kompeten di bidangnya. Salah satu tema yang diangkat dalam sesi public lecture ini yaitu Film for Social Movement, dengan menghadirkan Hanung Bramantyo, Noviantro Kahar dan Lono Simatupang sebagai speakers. 

Bertempat di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta, dengan moderator Realisa D Masardi, public lecture ini berlangsung selama tiga jam. Noviantro Kahar, Direktur Yayasan Denny JA, dalam paparannya mengatakan bahwa apa yang dilakukan yayasannya lebih banyak tentang isu-isu sosial dan kesenjangan yang terjadi di masyarakat. Salah satu fokus yayasan ini, yang ditegaskan dalam programnya, Indonesia Tanpa Diskriminasi. Berbagai bentuk karya seni digunakan untuk mengkampanyekan cita-cita yayasan ini. Lomba puisi esai, musikalisasi puisi, dan yang terbaru menggunakan medium film merupakan usaha untuk menyebarluaskan harapan mereka atas bangsa.

Beberapa film inisiasi Yayasan Denny JA, yang bekerjasama dengan para filmmaker juga diputar dalam perhelatan festival ini. Sapu Tangan Fang Yin, Cinta Terlarang Batman dan Robin, Romi & Yuli dari Cikeusik, Bunga Kering Perpisahan dan Minah Tetap di Pancung adalah film-film inisiasi Yayasan Denny JA, yang diaopsi dari kumpulan puisi esai karya Denny JA, yang diputar dalam special program JAFF. Film-film tersebut bercerita tentang diskriminasi ras, agama, cinta sesama jenis, cinta beda agama, yang semuanya terjadi dalam keseharian masyarakat di negeri ini. Pluralisme, sikap tidak membeda-bedakan sesama, adanya perlindungan negara, hidup damai berdampingan dalam beragam perbedaan, adalah mimpi yang terjadi di negeri ini, suatu saat nanti. “Sudahlah urusan agama dan kepercayaan, gak usah dibahas sekarang di dunia ini, nanti saja debatnya di akhirat” ucap Novrianto.

“Film Ayat-ayat Cinta dan film Perempuan Berkalung Sorban itu sebenarnya sama. Sama-sama tentang kaum muslim. Sama-sama tentang cinta. Sama-sama tentang poligami. Yang berbeda hanya angle-nya saja. Tapi reaksi publik sangat berbeda!” Hanung Bramantyo memulai paparannya. Menurut filmmaker yang telah menghasilkan banyak karya ini, generalisasi terhadap suatu masalah, masih banyak terjadi di negeri ini. Masyarakat di Indonesia lebih sering bereaksi cepat terhadap suatu masalah, tanpa mencermati dulu mengenai akar permasalahannya. Media massa juga mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter masyarakat ini. Sebagian media yang nakal, kadang hanya mementingkan rating saja, tanpa memikirkan substansi dan dampak sosial yang ditimbulkannya. Hanung mengatakan “Jangan percaya pada satu media saja, atau satu stasiun tv saja. kita harus mempunyai banyak referensi untuk mendapatkan informasi yang benar”.

Isu sosial yang diangkat Hanung dalam karyanya, bukan sesuatu hal yang jarang terjadi. Semuanya terjadi dekat dengan kehidupan kita. lewat karya-karyanya, ingin memberikan pemahaman lebih kepada masyarakat Indonesia, bahwa bangsa ini sangat kaya, sangat beragam. “Mari kita hidup dengan bhineka tunggal ika” ujarnya. Selain kesadaran masyarakat untuk menerima segala perbedaan, satu hal lain yang sangat penting adalah kepastian hukum. Selama ini negara dinilai kurang membela, khususnya yang dirasakan para filmmaker, karya yang mengkritik isu soaial ini. Keragaman yang dimiliki Indonesia dalam berbagai aspek, adalah modal awal untuk membangun bangsa ini menjadi lebih kuat dan bermartabat.

Sementara Lono L Simatupang, Antropolog Universitas Gajah mada, melihat media, khususnya film, untuk gerakan sosial dalam ruang yang lebih luas. Dalam penjelasanya, pesona film sebagai the technologi of enchantment and the enchantment of technology. Namun pesona film tersebut akan berubah menjadi sekedar teknologi saja apabila seni yang ditampilkan minus estetika. Secara gamblang dijelaskan pula bahwa ada tiga unsur yang membentuk pesona film ; technical difficulty, extra-daily technique, dan hightened-experience.

Artefacts ‘do’ things ; they reproduce the agency of their commissioners, makers and users ; they evoke emotional reactions within and amongst individuals, and urge people to take certain actions and positions (Maruška Svašek. 2007. Anthropology, Art and Cultural Production)

 

Catatan ;

Film-film dari Yayasan Denny JA dapat pula disaksikan di laman sosial Youtube. Namun karena beberapa alasan, ada film yang berubah dari format aslinya. Link untuk film tersebut diantaranya :

 

                                By : Fahmi Rahman

(Staff Kampanye RMI)

You may also like...