‘Finding Alternative Solution for Small Scale Gold Mining’Mencari Alternatif Solusi Pengelolaan Tambang Emas Rakyat

On April 2014, we discussed about small scale gold mining. As we know that small scale gold mining was booming at Halimun Salak area several decades ago. People use mercury and cyanide for gold processing. To discuss about impact of mercury and cyanide also their alternative solution, Ms.Rini Sulaiman from US Forest Service and Advisory Board of Yayasan Tambuhak Sinta as resource person. Discussion conducted on April 7, 2014 at RMI Office. Besides internal staff of RMI, there were representative from Board of RMI and Halimun Salak Mount National Park Office Unit Bogor.

Rini Sulaiman described that mercury (Hg) which is 13.6 x heavier than water, common use as dental amalgam materials, lamps, termometer, preservatif for contact lens, also using at crematorium. Mercury sold freely in the market even through the internet. Holding capacity of mercury in gold about 40-50%. Mercury expose from vapor emissions in general which formed through amalgam[1] combustion; this materials will stick on body and when inhaled mercury will absorbed by our lungs then spread by blood to various body organs (brain and kidney are highest mercury concentration). Mercury is very dangerous especially for pregnant women and children, mercury could channeled from mother to her baby via placenta. Mercury also will be accumulated on predator fish (for the bigger fish, mercury concentration is higher).

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

800×600

Normal
0
false

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Kuliah Singkat RMI bulan April ini membahas tentang tambang emas rakyat. Seperti diketahui bahwa tambang emas rakyat (PESK/Penambangan Emas Skala Kecil) begitu marak di kawasan Halimun Salak. Bahan yang digunakan oleh penambang untuk mengolah emas adalah merkuri dan cyanida. Untuk membahas tentang dampak merkuri dan cyanida serta alternatif solusinya, Rini Sulaiman dari US Forest Service dan Advisory Board Yayasan Tambuhak Sinta, sebagai narasumber. Acara ini dilakukan pada hari Senin tanggal 7 April 2014 di kantor RMI. Peserta diskusi selain tim internal RMI, juga ada perwakilan Dewan Pengurus RMI dan TNGHS Seksi Bogor.   

Rini Sulaiman menjelaskan bahwa merkuri (Hg) yang 13.6 x lebih berat dari air, umum digunakan sebagai bahan amalgam gigi, lampu, termometer, preservatif cairan lensa kontak dan digunakan juga di krematorium rumah sakit. Merkuri dijual bebas di pasaran bahkan melalui internet pun bisa dibeli. Daya ikat merkuri pada emas 40-50%. Paparan merkuri pada umumnya dari emisi uap merkuri yang terbentuk dari pembakaran amalgam[1]; ini akan melekat di badan (lengket) dan ketika dihirup merkuri diserap paru-paru dan disebarkan oleh aliran darah ke berbagai organ (otak dan ginjal yang paling tinggi konsentrasinya). Merkuri sangat berbahaya terutama bagi perempuan hamil dan anak-anak, tersalur dari ibu ke janin dalam kandungan melalui plasenta. Merkuri juga terakumulasi dalam badan ikan predator (makin besar ikan predator, konsentrasi merkuri makin banyak).

Kuliah singkat april 2014Kuliah singkat april1 2014Mercury poisoning is difficult to detect because have the same symptoms with malaria, alcoholic, and malnutrition (must be equipped with track record on health). In general, indications of mercury exposure are blue gums, difficult to walk (ataxia), tremor, muscle reflex impaired, eyelid tremor, excess saliva production, toe and finger numbness, and impotence. Chronic mercury exposure in the long term can cause dizziness, heavy metallic taste in the mouth, trembling fingers and toes, difficult to write, slurred speech, blurred vision, and hearing loss. Mercury test can do through urine (indications in the short time), blood (indications in the middle time), and hair (indications in the long term). Blacksmith Institute has lumex for detecting mercury; which method only blown and detect mercury direcly on the body. In USA, there is fish warning, recommendation to reduce consumption on predator fish.

To protect against mercury pollution, recommended not to do amalgamation[2] in the rivers, do amalgam combustion in well ventilated room – using funnel with water condensor, using appropriate technology for reducing / avoiding exposure (amalgamation drum, retort[3], recycling mercury) and avoiding eat predator fish.

Global Mercury Project (Unido) on 2007 conducted campaign activity on the small scale gold mining area, including for children and women group. Their findings in Katingan-Kalimantan Tengah were highest mercury concentration located in the traditional market (Kasongan Market) where amalgam combustion process conducted there. There are 34 gold kiosk which conducted gold amalgam combustion process. Yayasan Tambuhak Sinta introduce condensor and simple retort that more safe for health. In collaboration with Blacksmith Institute on 2008, simple technology applied on gold amalgam combustion using funnel with water condensor so that the steam is not discharged but go through the blower into the jar containing water. Lesson learned from Philippines, they use borax to avoid clay container rupture when combusted at 600°C.

Rojak (RMI) said that gold processing around Pongkor area now using cyanide because mercury is very expensive, about IDR 1, 6 million/kg. Even lees of gold processing can sold at a price range of IDR 100-300 thousand/kg. Rini said that cyanide is effective on gold processing because can capture almost 90%. But cyanide is very reactive, if it reacts with water for 48 hours is very dangerous because toxic gas and can cause death. But after 48 hours, cyanide is not harmfu, if exposed to heat will break down into nitrogen and carbondioxide. Cyanide more safe because it aren’t carsinogenic, mutagenic and bioaccumulative. So gold processing using cyanide is recommended but should be aware during 48 hours when reacts with water.

Inputs from Ismirza (staff from Halimun Salak Mount National Park Unit Bogor) that solution for long term such as economic alternative should be considered together with this alternative technology. Risk for gold miners is very bad and the greatest advantage isn’t for gold miners who risking his life go into the small hole for finding gold. Rini said that alternative solution on economic issue is needed to be independent from mining.

Now there is good will from Indonesian government, this month they launched National Action Plan about Elimination of the Use of Mercury on Gold Processing for Period 2014-2018, under coordination with Ministry of Environment. This is related with ratificasion on Minamata Convention[4] that on 2017 will entry into force, whereas up to now there are 850 hot spots on small scale gold mining using mercury in Indonesia. For industrial, they have started elimination of the use of mercury as material for lamp industry and hospital also use digital tensimeter to replace mercury tensimeter. The role of NGOs is needed, so its needed ToT for NGOs in order to deliver message about dangers of mercury and technology applies although of course can not be compared between locations, depending on the type of gold.

Written by Ratnasari

(Manager on RMI Knowledge Management Division)

 


[1] Mixture/resulting from the extraction of gold ore

[2] Process of mercury separation from amalgam and lees, discard unused mercury

[3] Furnace burners

[4] Signed in Kumamoto Jepang on 2013 by 121 countries around the world, aims to handle the impact of mercury as global polluters

Keracunan merkuri sulit dideteksi karena mirip dengan gejala malaria, alkoholik, ataupun malnutrisi (harus dilengkapi dengan sejarah kesehatan/rekam jejak). Pada umumnya indikasi paparan merkuri yakni gusi berwarna biru, kesulitan berjalan (ataxia), gemetaran, refleks otot terganggu, kelopak mata gemetar, produksi saliva berlebih, jari kaki dan tangan mati rasa, dan impotensi. Pemaparan merkuri kronis dalam jangka panjang bisa menyebabkan pusing, rasa logam berat di mulut, jari tangan dan kaki gemetar, kesulitan menulis, bicara tidak jelas, penglihatan kabur, dan kehilangan pendengaran. Tes merkuri bisa melalui urin (indikasi pemaparan jangka pendek), darah (indikasi pemaparan jangka menengah), dan rambut (indikasi pemaparan jangka panjang). Blacksmith Institute punya alat deteksi merkuri yaitu lumex; caranya dengan ditiup dan langsung mendeteksi merkuri dalam tubuh. Di Amerika Serikat ada fish warning, tapi intinya dianjurkan untuk mengurangi konsumsi ikan predator (ikan pemangsa ikan lain).

Untuk melindungi terhadap pencemaran merkuri yaitu tidak melakukan amalgamasi[2] di sungai, pembakaran amalgam dalam ruangan berventilasi baik – menggunakan cerobong asap dilengkapi kondensor air, menggunakan teknologi tepat untuk mengurangi / menghindari pemaparan (tong amalgamasi, retort[3], daur ulang merkuri) dan hindari makan ikan predator.

Global Mercury Project (Unido) hingga tahun 2007, merupakan kegiatan kampanye pada lokasi-lokasi tambang emas rakyat, termasuk bagi anak-anak dan kelompok perempuan. Hasil temuannya bahwa di Katingan-Kalimantan Tengah, konsentrasi merkuri terbesar terdapat di pasar karena proses pembakaran amalgam terjadi di pasar Kasongan, dimana terdapat 34 toko emas yang melakukan proses pembakaran amalgam emas. Yayasan Tambuhak Sinta memperkenalkan kondensor dan retort sederhana yang lebih aman bagi kesehatan. Melalui kerjasama dengan Blacksmith Institute pada 2008, diaplikasikan teknologi sederhana dalam pembakaran amalgam emas yakni dengan cerobong asap yang dilengkapi kondensor air sehingga uap tidak dibuang keluar tapi masuk melalui blower ke toples berisi air. Pembelajaran lain dari penambang emas skala kecil di Philippina dengan menggunakan metoda boraks untuk mencegah wadah tanah liat pecah ketika dibakar pada suhu 600°C.

Rojak (RMI) menyampaikan bahwa pengolahan emas rakyat di sekitar Pongkor kini lebih banyak menggunakan cyanida karena harga merkuri sangat mahal, kini pada kisaran Rp 1.600.000/kg. Bahkan ampas hasil pengolahan emas dijual lagi dengan kisaran harga Rp 100-300ribu/kg. Menurut Rini, cyanida cukup efektif dalam pengolahan emas karena penangkapan hampir 90%. Namun yang perlu diwaspadai bahwa cyanida sangat reaktif, jika bereaksi dengan air pada durasi 48 jam sangat berbahaya karena berupa gas beracun dan menyebabkan kematian. Namun setelah 48 jam, cyanida tidak berbahaya, jika terkena panas akan terurai menjadi nitrogen dan karbondioksida. Cyanida lebih aman karena tidak bersifat karsinogenik, mutagenik dan bioakumulatif. Jadi pengolahan emas menggunakan cyanida lebih disarankan dengan catatan waspadai selama 48 jam ketika bereaksi dengan air.

Masukan dari Ismirza (TNGHS) bahwa solusi jangka panjang untuk alternatif ekonomi harus juga dipikirkan bersamaan dengan alternatif teknologi seperti ini. Resiko bagi penambang sangat buruk dan keuntungan terbesar bukan pada penambang yang mempertaruhkan nyawanya masuk ke dalam lubang untuk mencari emas. Rini menanggapi bahwa solusi alternatif ekonomi memang perlu didorong untuk melepaskan ketergantungan dari sektor tambang yang lama-kelamaan akan habis (tak terbarukan).

Kini ada good will dari pemerintah, bulan ini diluncurkan Rencana Aksi Nasional tentang Penghapusan Penggunaan Merkuri Pada Pengolahan Emas Tahun 2014-2018, di bawah koordinasi KLH. Hal ini berkaitan dengan ratifikasi Konvensi Minamata[4] yang pada tahun 2017 akan entry into force, padahal hingga kini masih terdapat 850 hot spot tambang rakyat dengan merkuri di Indonesia. Pada dunia industri, sudah mulai ada penghapusan merkuri sebagai bahan seperti pada industri lampu, kemudian rumah sakit pun mulai mengganti tensimeter dengan digital. Peran LSM sangat dibutuhkan dalam hal ini, untuk itu perlu ToT utk kawan-kawan LSM agar dapat menyampaikan pada masyarakat tentang bahaya merkuri dan aplikasi teknologi yang bisa diterapkan, walaupun tentu saja tidak bisa disamakan antar lokasi tergantung dari jenis emas yang diolahnya.

Ditulis Oleh: Ratnasari

(Manajer pada Divisi Pengelolaan Pengetahuan RMI)


[1] Bahan campuran/hasil dari ekstraksi bijih emas

[2] Proses pemisahan merkuri dari amalgam dan ampas, membuang merkuri yang tidak digunakan

[3] Alat/tungku pembakar

[4] Ditandatangani di Kumamoto Jepang tahun 2013 oleh 121 negara di dunia, bertujuan untuk menanggulangi dampak merkuri sebagai pencemar global

You may also like...