Riungan Kasepuhan Banten Kidul Ka-10 di Kasepuhan Cisungsang

_MG_7712 (FILEminimizer)Jumat 19 September 2014 digelar Riungan Kasepuhan Banten Kidul Ka-10 yang dihadiri sekitar 300 orang dan para sesepuh (olot) dari 43 kasepuhan. Acara ini dihadiri juga oleh Ibu Bupati Kabupaten Lebak, staf ahli Gubernur Banten, Pimpinan DPR Kabupaten Lebak, Sekretaris Daerah, dan Kepala SKPD Kabupaten Lebak. Setelah acara pembukaan dengan sambutan dari Bapak Sukanta (Ketua Panitia), Abah Usep (Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang), Abah Ugis (Ketua SABAKI), dan acara dibuka secara resmi oleh Ibu Iti Oktavia (Bupati Kabupaten Lebak).

Acara dilanjutkan dengan sarasehan yang menghadirkan beberapa narasumber yakni Drs.H.Suma Wijaya (Pemprop Banten), Drs.Faruk Haryono (Pemkab Lebak), Mumu Muhajir (Epistema), Rahma dan Idham Arsyad (HuMa). Bapak Suma Wijaya menyatakan bahwa UUD 45 mengakui hukum adat (Pasal 18B), maka masyarakat adat Kasepuhan harus tetap menjaga identitasnya khususnya bertani; seperti filosofi “boga nanaon ge ari teu boga parema mah teu bisa sare (punya apapun kalau tidak punya padi/beras menyebabkan tidak bisa tidur)”. Hal lainnya sejak tahun 2007 hingga saat ini Pemprop Banten sedang merencanakan pemekaran daerah otonom baru yakni Kabupaten Cilangkahan meliputi Kecamatan Bayah, Malimping, Banjarsari, Cibeber, Wanasalam, Panggarangan, Cijaku, Citorek, Cigemlong, dan Cihara. Bapak Haryono (Pemkab Lebak) menambahkan bahwa pemekaran diusulkan karena wilayah Kabupaten Lebak sangat luas sehingga diharapkan akan memudahkan dalam urusan pelayanan untuk masyarakat. […]