Advokasi HGU PT.Hevindo: Perjuangan Belum Berakhir

_MG_1649 (FILEminimizer)Komitmen Amanat (Aliansi Masyarakat Nanggung Transformatif) tidak berubah hingga kini; menolak perpanjangan HGU PT.Hevindo dan HGU baru dalam bentuk apapun. Komitmen ini terlihat dari aksi penolakan dan konsolidasi anggota yang terus dilakukan. Bentangan spanduk di jalan menjadi bukti aksi penolakan warga atas perpanjangan HGU PT.Hevindo yang ijinnya berakhir pada 31 Desember 2013 lalu.

Surat dari Setda (Sekretariat Daerah) Kabupaten Bogor no.593.4/698-adpem tertanggal 31 Oktober 2014 yang ditujukan pada Camat Nanggung, menggugah warga untuk terus waspada pada langkah yang dilakukan Pemkab Bogor sehubungan dengan lahan bekas HGU PT.Hevindo. Pada surat tersebut dinyatakan jika pada lokasi eks HGU tidak boleh ada penambahan penggarap baru, tidak diperkenankan oper alih garapan, tidak boleh merusak tanaman yang ada, dan dilarang mendirikan bangunan baik rumah tempat tinggal, warung tempat usaha dan lainnya. […]

Oleh-oleh Pelatihan: Sistem Data Berbasis Web

Sekitar 20 orang mengikuti Pelatihan Humawin pada tanggal 13-14 Nopember 2014 yang bertempat di Hotel Mercure Padang – Sumatera Barat. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Qbar dan Huma. RMI sebagai salah satu lembaga peserta, selain lembaga e1lainnya yaitu Bantaya-Palu, Wallacea-Palopo, Lembaga Bela Banua Talino (LBBT)-Pontianak, Lembaga Bantuan Hukum (LBH)-Semarang, Akar Foundation-Bengkulu, Jaringan Kerja Masyarakat Adat Aceh (JKMA)-Aceh, Lembaga Bantuan Hukum (LBH)-Padang, Walhi-Sumatera Barat, Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM)-Sumatera Barat, KKI Warsi, PBHI-Sumatera Barat, dan Qbar-Padang.

Acara dibuka oleh Noura (Qbar) dan difasilitasi oleh Agung (HuMa). Setelah menyepakati jadwal, sebagai pengantar sesi Malik (HuMa) memberikan penjelasan tentang sistem humawin. Humawin adalah alat atau sistem pendokumentasian data konflik agraria dan sumber daya alam. Humawin merupakan pengembangan dari sistem Winisis. Humawin ini telah dikenal cukup lama dan diaplikasikan oleh mitra HuMa untuk mendokumentasikan data konflik. […]

Cisadane River Watch

CRW (Cisadane River Watch) adalah komunitas yang dibentuk untuk meningkatkan rasa peduli masyarakat terhadap Sungai Cisadane di Jawa Barat (Indonesia). Kelompok ini  beranggotakan  Guru, Pelajar Sekolah, dan Komunitas Masyarakat. Aktifitas CRW dan kelompoknya berada di tiga wilayahaliran Sungai Cisadane, yaitu:
Hulu Sungai Cisadane di perbatasan Sukabumi-Bogor, dengan kelompok yang terlibat:
SMAN 1 Cigombong, SMA Harapan Bangsa, MTs.Mazro’atussibyan, dan Komunitas Lindalang.
2.      Bagian tengah Sungai Cisadane di bagian Kota Bogor, dengan kelompok yang terlibat:  SMP 13, SMA Plus BBS (Bina Bangsa Sejahtera), SMA Kornita IPB dan Komunitas JERAMI (Jejak Ramah Bumi).
3.      Bagian hilir Sungai Cisadane di bagian Kota Tanggerang, yaitu:  SMA N 12 Tanggerang dan Komunitas Tabur Mangrove.
Inisiasi CRW berawal dari aktifitas pelatihan biomonitoring yang diadakan pada bulan Januari 2014 di Bogor oleh Yayasan RMI (Rimbawan Muda Indonesia), dimana pelatihan ini diikuti oleh tujuh sekolah dari Kota Bogor dan Tangerang.
Pembentukan Cisadane River Watch ini adalah bagian dari RTL (Rencana Tindak Lanjut) dari pelatihan biomonitoring tersebut.  Biomonitoring  sendiri adalah sebutan bagi salah satu metode untuk mengukur kualitas air berdasarkan keberadaan makhluk hidup tertentu (umumnya adalah invertebrata sebagai bioindikator air). Metode biomonitoring dipergunakan karena alasan kemudahan dan kepraktisan dalam mempraktikannya. Dengan buku panduan, sedikit pembekalan dengan mudah siswa-siswi dapat mengukur ketercemaran suatu lokasi perairan.
Ke tujuh sekolah yang mengikuti pelatihan biomonitoring, berkomitmen untuk melakukan aktifitas biomonitoring sebulan sekali.
Jeda sebulan setelah pelatihan biomonitoring tersebut, kami (Mahmud dan Rahma) yang menjadi koordinator CRW melakukan monitoringing kegiatan di wilayah hulu, tengah dan hilir Sungai Cisadane tersebut. Kegiatan monitoring ini juga berguna untuk melihat kebutuhan-kebutuhan lain yang diperlukan oleh sekolah atau kelompok masyarakat dimana mereka berada. Sebagai hasil adalah masukan bagi kegiatan CRW yang akan diusulkan kepada sekolah / kelompok tersebut.
Sebagai contoh adalah bahwa dari hasil monitoring didapatkan bahwa di sekolah-sekolah ternyata posisi guru umumnya masih belum cukup kuat untuk dapat menentukan kebijakan di sekolah. Sebagai masukan kepada tim CRW adalah perlunya diselenggarakan pelatihan kembali bagi guru-guru atau Kepala Sekolah yang diinginkan terlibat pada komunitas ini, untuk memperkuat komitmen serta melengkapi peserta dengan strategi yang tepat dalam beraktifitas.
Masing-masing komunitas memang memiliki kekhasannya masing-masing. Sebagai contoh misalnya komunitas LINDALANG (Lingkungan Daur Ulang), yang memilii fokus kegiatan daur ulang sampah, dimana sampah plastik diubah menjadi barang yang mempunyai harga jual. Di wilayah tengah ada SMP 13 yang sudah fokus melakukan kegiatan Penanaman, pengelolaan sampah  dan kegiata-kegiatan untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan kepada siswa di sekolah. Di wilayah hilir Sungai Cisadane misalnya ada SMAN 12 Teluk Naga, dimana sekolah ini melakukan kegiatan penanaman sayur organik dan memiliki  harapan dapat membuat bank sampah untuk mengatasi masalah sampah di sekolah.
Dari apa yang diharapkan terjadi yaitu mendapatkan data kualitas sungai yang berasal dari bagian hulu tengah dan hilir Sungai Cisadane, memang belum semuanya tercapai. Ada komunitas yang kemudian tidak dapat melanjutkan kegiatan (biasanya dikarenakan kesibukan dari komunitas itu sendiri dan kurangnya persamaan kepentingannya dengan tujuan CRW); namun di sisi lain muncul juga komunitas baru yang pada awal pembentukan CRW tidak ada namun kemudian muncul akibat kesamaan kepentingan seperti halnya komunitas sekolah di SMPN 13 Bogor. Semuanya merupakan dinamika dalam kegiatan ini.
Ada harapan bahwa kegiatan CRW bagi kelompok-kelompok yang bergabung merupakan suatu awalan untuk gerakan lingkungan yang lebih besar. Bagi sekolah, misalnya diharapkan bahwa kegiatan seperti pemantauan lingkungan bisa terintegrasi dengan kurikulum pelajaran, untuk menanamkan rasa cinta lingkungan kepada anak-anak. Bagi kelompok masyarakat, diharapkan kegiatan ini bisa membuat kelompok semakin bersatu, kuat dan bisa menyebarkan virus-virus pergerakan di masyarakat.
Apabila sesuatu yang kecil dilakukan oleh banyak orang, kami percaya bahwa sesuatu yang besar akan terjadi.

CRW (Cisadane River Watch) adalah komunitas yang dibentuk untuk meningkatkan rasa peduli masyarakat terhadap Sungai Cisadane di Jawa Barat (Indonesia). Kelompok ini  beranggotakan  Guru, Pelajar Sekolah, dan Komunitas Masyarakat. Aktifitas CRW dan kelompoknya berada di tiga wilayahaliran Sungai Cisadane, yaitu:
  1. Hulu Sungai Cisadane di perbatasan Sukabumi-Bogor, dengan kelompok yang terlibat: SMAN 1 Cigombong, SMA Harapan Bangsa, MTs.Mazro’atussibyan, dan Komunitas Lindalang.
  2. Bagian tengah Sungai Cisadane di bagian Kota Bogor, dengan kelompok yang terlibat:  SMP 13, SMA Plus BBS (Bina Bangsa Sejahtera), SMA Kornita IPB dan Komunitas JERAMI (Jejak Ramah Bumi).
  3. Bagian hilir Sungai Cisadane di bagian Kota Tanggerang, yaitu:  SMA N 12 Tanggerang dan Komunitas Tabur Mangrove. […]

Cisadane River Watch: Biopori di SMAN Cigombong

Pertemuan keempat pada 13 November 2014 ini merupakan tindak lanjut pertemuan bulan September lalu. Ada tiga komunitas ekstra kurikuler SMAN Cigombong yang aktif berkegiatan dan tergabung dalam Cisadane River Watch yakni Pecil (Pecinta Lingkungan), KIR, dan KPA Langlang Buana. Namun pada pertemuan kali ini hanya tim KIR dan siswa kelas 12 yang mengikuti kegiatan karena kelompok lain berhalangan (bentrok dengan agenda lain). Pada awalnya kegiatan yang direncanakan yaitu penanaman/penghijauan namun masih butuh persiapan yang matang. Maka pembuatan lubang biopori disepakati menjadi tahap awal kegiatan yang bisa dilakukan.

biobio1Seperti diketahui jika biopori (LRB/Lubang Resapan Biopori) diperkenalkan oleh Dr.Kamir R.Brata (Departemen Konservasi Tanah dan Air IPB). Alat pembuat lubang dibuat dari batang pipa besi ukuran ¾ inci dengan mata bor tanah pada ujung bawah alat dengan lebar sesuai dengan diameter lubang yang diinginkan. Alat ini sudah dibuat oleh Dr.Kamir R.Brata sejak tahun 1976 dan ketika terjadi banjir di Jakarta tahun 2007, beliau sangat gencar memperkenalkan metode ini pada masyarakat termasuk akademisi dan Pemda (Kompas/8 Maret 2008). […]

Kuliah Singkat RMI: Hukum Atas Tanah dan Pengelolaan Lahan Masyarakat Adat Kasepuhan dan Pergulatan Dalam Mendapatkan Haknya

Pada 7 Nopember 2014, Kuliah Singkat RMI membahas hasil studi tentang masyarakat adat Kasepuhan Ciptks1agelar. Studi ini dilakukan oleh Rebakah Daro Minarchek, PhD candidate untuk Development Sociology dari Cornell University-USA dan associate director of AIFIS (American Institute for Indonesian Studies). Kuliah Singkat kali ini dihadiri oleh tim internal RMI, juga teman-teman jaringan/instansi lain seperti dari KpSHK, Yayasan Kehati, Universitas Indonesia, dan Dephut.

Rebakah menjelaskan bahwa studinya menekankan pada sistem huma / ladang masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar-Kabupaten Sukabumi dan hubungannya dengan Putusan MK35/PUU-X/2012. Seperti diketahui bahwa dalam Putusan MK 35/PUU-X/2012 menyatakan bahwa hutan adat bukan lagi bagian hutan negara; hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat. Sehingga diperkirakan sekitar 40% wilayah hutan di Indonesia terkena imbas dari putusan ini. […]

GreenCamp 2014: Tidak Rela Bila Negeriku Berantakan

IMG_5383 (FILEminimizer)Kembali RMI menggelar GreenCamp untuk anak-remaja usia 14-18 tahun. Belum lepas ingatan ketika menggelar GreenCamp tahun 2011 lalu di Kampung Ciwaluh-Desa Watesjaya, kaki Gunung Gede-Pangrango. Tahun ini, gelaran GreenCamp 2014 mengangkat tema ‘Pengurangan Resiko Bencana Terhadap Dampak Alih Fungsi Lahan dan Pembangunan Skala Besar’. Kali ini RMI menggandeng Pusat Krisis Universitas Indonesia dan PMI, sesuai dengan tema yang diangkIMG_5540 (FILEminimizer)at.

Berlokasi di TWA Gunung Pancar – Babakan Madang, total ±145 peserta berikut para pendamping/fasilitator terlibat aktif sejak tanggal 24 hingga 26 Oktober 2014. Peserta beragam, ada anak sekolah dan komunitas dari Bogor, Jakarta, Tangerang, juga ada yang dari Jambi dan Medan. Interaksi antar peserta sangat kaya karena latar belakang dan lokasi tinggal peserta berbeda; ada yang dari daerah pesisir, pegunungan, sekitar hutan, bahkan perkotaan. […]

Aktivitas ‘Cisadane River Watch’ SMPN 13 Bogor

Kali keempat, kami (Rahma dan Mahmud/RMI) datang ke SMPN 13 Bogor pada 4 November 2014. Walaupun pada kali ini tidak smp1banyak siswa yang berkumpul, dikarenakan kelas IX (sembilan) sudah mulai bimbingan belajar untuk persiapan UN. Terhitung ada 13 siswa didampingi 1 orang guru pembina dalam kegiatan Cisadane River Watch kali ini.

Pertemuan kali ini merupakan kelanjutan pertemuan sebelumnya pada 30 September dan 14 Oktober 2014. Bersama siswa SMPN 13, sudah melakukan kegiatan pemantauan kualitas air melalui biomonitoring. Maka kali ini yang akan dilakukan yakni menilai habitat sungai di aliran sungai Cisadane, tepatnya daerah Cigading yang dekat dengan SMPN 13. Lokasi yang sama dengan praktek biomonitoring pada beberapa waktu lalu. […]

Menuju Perda Masyarakat Adat: Diskusi Dengan Ketua DPRD Lebak

Bertempat di ruang kantor Ketua DPRD Lebak-Rangkasbitung, pada 5 Nopember 2014 dilakukan pertemuan dengan Ketua DPRD Lebak (Junaedi Ibnu Arta) untuk membahas soal Perda Masyarakat Adat. Walaupun sempat tertunda cukup lama, sekitar 4 jam dari waktu yang dijanjikan semula, akhirnya pertemuan dilakukan juga. Hadir dalam diskusi ini selain tim RMI (Nia dan Rojak), perwakilan masyarakat (Sukanta-Ketua Sabaki dan Jaro Wahid dari Desa Jagaraksa-Kasepuhan Karang), juga dari Epistema Institute (Mumu, Raitah, Chakimah, Niar, Arman), dan HuMa (Erwin dan Wiwid).

lebaklebak2 […]

Sekolah Penggerak Masyarakat, Langkah Bagi Rakyat Dalam Memperjuangkan Hak-haknya

“Rakyat harus mengetahui aturan-aturan yang telah dibuat oleh pemerintah, agar kita tidak di bodoh-bodohi” demikian yang diutarakan peserta dalam Sekolah Penggerak Masyarakat (SPM) di Desa Nanggung, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Pernyataan lugas ini memberi gambaran tentang situasi permasalahan yang terjadi pada masyarakat khususnya di pedesaan. Beragam masalah yang dihadapi masyarakat ketika ada pihak lain yang berupaya untuk menguasai tanah dan sumber daya alam, harus diurai dan diperjuangkan. Untuk itu masyarakat harus bisa menghilangkan rasa takut, bodoh, diam/pasif dan tidak kompak. Melalui SPM ini diharapkan muncul penggerak dalam masyarakat yang mampu membangun organisasi rakyat yang kuat sehingga terbentuk masyarakat yang cerdas, kritis dan tangguh dalam memperjuangkan hak-haknya. […]

PERNYATAAN BERSAMA: LANGKAH KONKRET MENUJU PERDA MASYARAKAT ADAT KASEPUHAN

CIMG4428 (FILEminimizer)Pada 24 Oktober 2014 di Rangkasbitung, dilakukan penandatanganan pernyataan bersama tentang penyusunan Perda Masyarakat Adat Kasepuhan di Kabupaten Lebak. Hadir dalam acara ini perwakilan Pemkab Lebak, DPRD Kabupaten Lebak, masyarakat adat Kasepuhan (Sabaki), RMI, JKPP, HuMa, Epistema Institute, BRWA dan Komnas HAM sebagai saksi. […]