CATATAN ILC ASIA REGIONAL ASSEMBLY AND LAND FORUM 2014

Gujarat-India, 6 – 10 Oktober 2014

Sekitar 40 orang anggota ILC Asia mengikuti pertemuan tahunan yang bertajuk “ILC Asia Regional Assembly and Land Forum 2014: Mera Gav, Meri Jamin”. Peserta merupakan anggota ILC yang berasal dari Cambodia, Nepal, Indonesia, Philippines, Mongolia, Kyrgiztan, Thailand, dan India.

1Peserta dari Pakistan dan Bangladesh tidak bisa bergabung dalam pertemuan ini karena ada hambatan dalam pengurusan visa. Pertemuan ini dihadiri juga oleh ILC Secretariat (Roma). Bertindak sebagai host organization adalah MARAG (India).

2MARAG mengatur akomodasi bagi peserta di Gopnaad – Mera Village, sekitar 3 jam dari bandara Ahmedabad. Daerah kering dengan hawa yang panas (suhu 42°C) memberikan tantangan tersendiri bagi peserta. Untuk makanan, peserta mengikuti budaya warga setempat yang vegetarian. Warga setempat merupakan komunitas pastoralism yakni komunitas nomaden (berpindah-pindah) yang memiliki dan bergantung pada hewan peliharaan seperti unta, kuda, kerbau, sapi, dll.

Hari pertama diisi dengan laporan/update dari ILC Asia Steering Committee (Don Marquez/ANGOC), RCU/Regional Coordination Unit (Erpan Faryadi), ILC Global/International (Sabine Pallas), dan ILC Asia Host (Iwan Nurdin/KPA). Pada diskusi ILC Strategic Framework 2016-2020, peserta memberi masukan mengenai bagaimana gambaran pola/mekanisme antara anggota dan ILC pada tahun 2020 mendatang. Untuk memperkaya dalam penyusunan rencana regional, melalui metode world cafe didiskusikan tentang Land Matrix, HAM, Masyarakat Adat dan Pastoralist, Land Watch Asia, Perempuan dan Tanah, dan VGGT (Voluntary Guideline on the Responsible Governance of Tenure of Land, Fisheries, and Forests).

Pada hari kedua dan ketiga merupakan agenda untuk Asia Land Forum, dibuka secara resmi oleh Sanatbhai Mehta (Ex-Finance Minister of Gujarat, India) dan PV Rajgopalan (Ekta Parishad President and Founding Member). PV Rajgopalan menyatakan bahwa gerakan rakyat yang diinisiasi Ekta Parishad dilandasi oleh kitab Weda (“beri kami kekuatan untuk melayani kaum miskin”). Beberapa tantangan gerakan rakyat yang disampaikan oleh PV Rajgopalan yakni perlu mendefinisikan ulang ‘pembangunan’ meliputi etik dan keadilan, terjadinya insensitivitas pada sistem pendidikan publik yakni tidak terkoneksinya antara hati dan pikiran, sedangkan kekuatan moral berasal dari dedikasi dan pengorbanan, selain itu propaganda merupakan lobi yang kuat sehingga perlu kapasitas untuk mempromosikan aksi transformatif.

Sesi paralel (peserta bisa memilih) dilakukan untuk mendiskusikan SDGs (Sustainable Development Goals), gerakan anti kekerasan (non-violence), hak atas pangan, NES (National Engagement Strategy) dan land rights defenders. Selain itu peserta juga mendiskusikan tentang isu HAM dan assessment untuk informasi dan komunikasi pada ILC Asia.

Pada hari keempat dilakukan Land Rights Mela yang merupakan acara pameran, festival pangan dan produk lokal, tarian dan nyanyian. Pada festival ini hadir komunitas dari 12 wilayah di Gujarat. Dan pada hari terakhir dilakukan kunjungan lapang ke komunitas pastoralist yang telah berhasil mengambil alih (reclaiming) 40.000 ha lahan.

34Untuk IL5C Regional Asia tahun 2015, ada 2 usulan tempat yakni Kyrgiztan (penyelenggara Rural Development Fund/RDF) dan Thailand (Asia Indigenous People Pact/AIPP). RCU akan menginformasikan kepastian tempatnya nanti.

Ditulis Oleh: Ratnasari

(Manajer Divisi Pengelolaan Pengetahuan)

You may also like...