RAPAT KERJA SATUAN ADAT BANTEN KIDUL (SABAKI)

_MG_9319 (FILEminimizer)Pada tanggal 5 – 7 Desember 2014 diadakan Rapat Kerja (Raker) Satuan Adat Banten Kidul (SABAKI) di Rangkasbitung. “Menuju Terwujudnya Kedaulatan Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam” merupakan tema dari gelaran Raker SABAKI kali ini. Acara yang diketuai oleh Jaro Wahid (Kasepuhan Karang, Desa Jagaraksa) ini dihadiri oleh Wakil Bupati Lebak (H. Ade Sumardi), Ketua DPRD kabupaten Lebak (Junaedi), Ketua Sabaki (Sukanta), perwakilan komunitas dari masing-masing Kasepuhan yang ada di wilayah Kabupaten Lebak dan Sukabumi juga tim RMI, HuMa, Epistema dan AMAN. Jumlah total peserta yang hadir sekitar 40 orang. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama SABAKI, RMI, HuMa, Epistema, Kemitraan, dan TAF. […]

Serunya Diskusi dengan BARET dan KETAPANG di Nanggung !

n1Berkumpul dan ngobrol bersama anak-anak dan remaja seakan tidak ada habisnya. Walaupun hari sudah menjelang senja, tetap saja terasa serunya diskusi di kediaman Pak Wardi (Kampung Dukuh Kawung, Desa Nanggung) pada 3 Desember 2014. Selain tim RMI, sore itu kebetulan ada Bert (SEA Regional tdhG) dan Roosa (tdhG Indonesia) yang ingin mengetahui kegiatan BARET dan KETAPANG.

Seperti diceritakan oleh Nanang (17 tahun), sang ketua kelompok, bahwa BARET yang kepanjangannya ‘Barisan Remaja Tani’ dibentuk pada 18 Juni 2014. Anggotanya anak dan remaja usia sekitar 9 – 17 tahun. Kegiatan BARET hingga saat ini yaitu bertanam di pekarangan, bertanam di kebun bersama, belajar membuat pupuk kompos, membuat keranjang dari bambu untuk wadah tanaman dan pencak silat. Jenis tanaman yang ditanam antara lain cabe, tomat, kangkung, bayam, jahe merah, dan sengon. Hasil panen sayuran selain dikonsumsi sendiri, juga dijual lalu uang hasil penjualannya dikumpulkan dalam kas kelompok. Untuk penjualannya dilakukan di sekeliling kampung saja. Sedangkan KETAPANG, kepanjangannya ‘Kelompok Remaja Tani Pekarangan’ menurut Sagita (15 tahun) baru dibentuk 14 September 2014 dengan jumlah anggota sekitar 25 orang tapi diakuinya karena baru terbentuk maka belum punya struktur kelompok. Awal dibentuknya karena dengar cerita kegiatan BARET lalu ingin melakukan kegiatan serupa di kampungnya. […]

Sekolah Penggerak Masyarakat II “Pembaharuan Hukum Pengelolaan SDA Melalui Organisasi Rakyat Yang Kuat dan Berperspektif Gender”

_MG_1808 (FILEminimizer)Bertempat di Desa Jagaraksa-Lebak, Sekolah Penggerak Masyarakat (SPM) II diadakan sebagai kelanjutan dari SPM I bulan September lalu. Acara dibuka oleh Camat Muncang (H.Abdul Rohim, SPd), Kades Jagaraksa (Jaro Wahid) dan RMI (Rojak Nurhawan). SPM II dilaksanakan pada tanggal 25 – 27 Nopember 2014 bertema “Pembaharuan Hukum Pengelolaan SDA Melalui Organisasi Rakyat Yang Kuat dan Berperspektif Gender”. Kegiatan ini dilaksanakan oleh RMI dengan dukungan dari HuMa-SPHRI. Peserta SPM II sekitar 20 orang dari Desa Nanggung, Curugbitung, Kiarasari, Cirompang, Cibedug, dan Jagaraksa.

Pada SPM II kali ini, materi yang dipelajari peserta meliputi Analisis Sosial, Organisasi Rakyat dan Gender. Metode yang digunakan dalam SPM II yakni diskusi kelompok, permainan, drama/bermain peran, dan menggambar. Variasi dalam metode ini membuat sesi SPM kali ini begitu menyenangkan dan tidak membuat bosan peserta. Seperti diungkapkan oleh Mursyid (Desa Cirompang): “Melalui permainan dan drama yang dimainkan, materi akan mudah diserap dan mudah dipahami”. […]