CATATAN PERJALANAN SUSUR CISADANE

Matahari pagi ini bersinar begitu cerah, diiringi suara gemercik air yang mengalir serta kicauan burung seperti sedang bermain di celah pohon-pohon yang tegak berdiri di bantaran sungai. Dengan ransel yang sudah di-packing sedari malam dan sepatu yang saya pakai hampir mirip sepatu tentara, saya siap mengarungi setiap rintangan yang akan dihadapi dalam perjalanan ini.

Berpijak pada tanah yang sedikit basah, memaksa kaki ini harus terus melangkah. Terlihat beberapa aktivitas masyarakat yang berinteraksi langsung dengan sungai, tak mau terlewatkan momen ini lalu saya memotret dengan kamera yang menggantung di leher. Sebagian teman saya sedang asyik mengoperasikan GPS serta mencatat datanya dengan selembar kertas. Kemudian saya memotret pohon-pohon yang berdiri tegak di pinggir sungai.

Dari kejauhan terlihat para pekerja bangunan sedang sibuk dengan kegiatannya pagi ini. Sepertinya para pekerja ini sedang membuat bangunan untuk perumahan, hal ini terlihat dari bendera-bendera yang mempromosikan sebuah perumahan. Ternyata rencana pembuatan jalan tol Bocimi (Bogor-Ciawi-Sukabumi) ini memberikan dampak, salah satunya munculnya perumahan-perumahan. Saya berharap semoga penghuni perumahan ini nanti, tidak membuang sampahnya ke sungai.

Dapat kabar dari salah satu teman jika kami harus menyebrangi sungai karena jalan di depan susah dilewati, cukup membuat saya ragu untuk menyebranginya karena arus sungainya cukup kencang. Dengan didampingi salah satu teman akhirnya saya pun berhasil melewatinya, walaupun dengan celana dan sepatu basah. Perjalanan ini diteruskan sampai kami tiba di Kampung Bunder, Desa Caringin.

Tanpa berleha-leha saya kemudian melakukan wawancara ke masyarakat setempat. Berjalan ke sudut rumah-rumah untuk menemui masyarakat yang bisa diajak ngobrol. Bertemulah dengan Pak Rahmat yang kesehariannya bekerja sebagai buruh. Pak Rahmat (42) menuturkan jika sekarang ini masyarakat sudah tak lagi memanfaatkan air sungai untuk kegiatan sehari-hari, karena banyak sampah dan limbah pabrik yang dibuang ke sungai.

Kemudian saya melanjutkan perjalanan, terlihat ada pohon pisang yang tumbang dan sampah yang berserakan diantara tanaman padi, juga bapak tua yang sedang membajak sawahnya yang di pinggirnya terdapat patok tol Bocimi. Artinya suatu saat bapak tua ini harus keluar dari sawah miliknya. “Ya mau gimana lagi…kalau jadi dibeli paling nanti uangnya dibeliin sawah lagi” tutur Pak Tua dengan logat sundanya.

Bau dan kotor limbah yang mengalir ke sungai, limbah ini entah dari pabrik mana. Semak belukar kali ini menghadang perjalan kami, rasa lapar dan sinar matahari yang sudah di atas kepala memaksa kami beristirahat dan melaksanakan shalat zhuhur. Naik turun untuk mencari jalan yang sekiranya mudah untuk dilewati, serta melakukan biomonitoring untuk menilai kualitas air sungai ini. Akhirnya senja pun tiba, kami tiba di Kampung Bojongmenteng dan tenda harus didirikan. Sebelum tidur, sejenak melakukan herpetofauna malam ini, ternyata hanya mendapatkan beberapa serangga dan kodok.

Mentari yang masih malu-malu bersumbunyi di balik beberapa pohon besar yang sinarnya sedikit demi sedikit mengenai wajah. Maka berkemaslah dan membersihkan sampah-sampah bekas kemarin, terlihat beberapa burung dan aktivitas masyarakat di pagi hari. Lagi-lagi semak belukar menghadang, kemudian terlihat mata air yang menggoda untuk sekedar gosok gigi dan membasuh muka yang masih terlihat kusam.

Kali ini perjalanan harus menyusuri jalan kereta Bogor – Sukabumi, karena tebing-tebing yang langsung menyentuh sungai pasti akan sulit dilewati. Rasa haus yang saya rasakan saat ini, terpaksa saya minum langsung air dari mata air yang saya taruh di botol minum karena persediaan air minum telah habis.

Terlihat bendungan milik PDAM yang cukup besar, serta para pekerja bangunan yang sedang mengecor tebing-tebing di pinggir rel kereta. Melewati rimbunnya pohon bambu, rasanya ingin beristirahat dan tidur, melepas lelah pada saat itu. Tak jauh dari pohon bambu tersebut terdapat rumah yang begitu rapih, bersih dan nyaman, berdindingkan bilik. Rumah itu terletak di samping kiri jalan kereta dan di samping kanan sungai. Saat melintas rumah ini, pemiliknya sedang memberi makan kambing-kambingnya. Bapak tua yang sehari-hari berjualan batang bambu di daerah Lawang gintung ini pada saat itu sedang tak berjualan karena ada masalah pada matanya, sehingga istrinyalah yang menggantikan berjualan.

Meninggalkan si bapak tua tadi, kami lalu meneruskan perjalanan. Lagi dan lagi harus menyebrangi sungai. Lipat celana, memasukkan kamera ke dalam tas dan bersiap melintas. Arus saat itu tak begitu kecang tetapi sungai ini cukup dalam, hehe. “Coy”, sapa saya ke teman, “bareng nyebrangnya”. Akhinya saya berpegangan ke salah satu teman, sambil tertawa antara senang dan ketakutan. Basah kuyuplah seluruh badan ini, tak apalah yang penting selamat.

Tibalah di daerah Ciomas Kelurahan Cipaku, dan langsung melaksanakan shalat zhuhur di mushola karena pada saat itu sudah masuk waktu zhuhur. Setelah shalat kemudian mencari warung nasi untuk mengganjal perut yang sudah lapar ini.

Kali ini perjalanan lebih banyak melalui jalur kereta, karena medan pinggir sungai tak memungkinkan untuk dilewati. Beberapa daerah telah dilewati, langit yang mulai gelap akhirnya kami tiba di Pamoyanan. Keesokan harinya perjalanan dimulai dari Pamoyanan sampai daerah Rangga gading.

Perjalanan kali ini luar biasa, saya pribadi merasakan persoalan seperti sampah dan limbah yang dibuang ke sungai menjadi momok yang menakutkan. Apabila hal seperti ini tak cepat-cepat ditangani, sungai hanya akan menjadi wadah sampah dan limbah, tak bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat. Dan generasi selanjutnya tak akan pernah bisa melihat sungai yang jernih, bersih dan tak bisa bermain dengan bebas di sungai itu.

Oleh: Erik Suhana

(Staff Divisi Pengelolaan Pengetahuan RMI)

You may also like...