Sekolah Lapang Rakyat 3


Tanami Pekarangan, Keluarga Sehat !

 

Sekolah Lapang Rakyat (SLR) 3 diadakan di Desa Jagaraksa-Kec.Muncang dan Desa Cirompang-Kec.Sobang, Lebak pada 6 – 7 Agustus 2015. Topik yang dibahas dalam SLR 3 kali ini tentang teknis budidaya pertanian dalam pemanfaatan pekarangan. Peserta yang hadir sebagian besar perempuan yang aktif dalam kelompok, kader Posyandu, dan penggerak PKK Desa. Kegiatan di Desa Jagaraksa dihadiri pula oleh UPT Pertanian Kecamatan Muncang.

SLR1SLR2

“Selama ini masyarakat kalau diminta menanam selalu beralasan tidak punya benih, pupuk, polibag padahal bisa memanfaatkan bahan yang ada di sekitar rumah” tutur Parlan (UPT Pertanian Kec.Muncang). Parlan menambahkan jika sebagian besar masyarakat selalu membeli sayuran dari pedagang keliling yang masuk ke kampung sehingga kondisi sayuran tidak segar/layu. Masyarakat lebih sering membeli sayuran daripada menanam, hanya sedikit yang menanam sayuran di galengan sawah maupun kebunnya. Kelompok perempuan di Desa Cirompang bisa menjadi contoh baik menanam sayuran di kebun kelompok, walaupun hasilnya belum optimal karena kekeringan.

Dindin (Nastari) sebagai narasumber SLR 3 menjelaskan tentang 5 aspek budidaya tanaman yaitu tanah, pupuk, bibit, air dan dekomposer (pemercepat proses pengomposan). Kompos merupakan unsur penting dalam budidaya tanaman. “Pupuk kompos ini bisa tahan selama bertahun-tahun dan sifatnya seperti spon, ketika kering akan mengeluarkan air dan ketika kebanyakan air akan menyimpannya” kata Dindin.

Kolot baheula punya kebiasaan bagus untuk menyimpan jerami hasil panen di sawah lalu dibolak-balik ketika hampir kering. Ini bisa menjaga kelembaban tanah dan memperbanyak mikroorganisme dalam tanah sehingga tanah menjadi subur” kata Dindin. Sampah dapur juga bisa dikumpulkan untuk dijadikan kompos, kecuali karet, beling, kaca, dan plastik.

Jika menanam sayur sendiri akan memberikan banyak keuntungan, diantaranya bisa mengurangi pengeluaran/belanja. Menurut peserta, rata-rata tiap rumah tangga membeli tomat-cabe untuk sambal Rp 2.000,-/hari  maka selama sebulan (dikalikan 30 hari) pengeluaran untuk sambal adalah Rp 60.000,-. Pengeluaran untuk membeli sayuran rata-rata Rp 4.000,-/hari, maka dalam sebulan Rp 120.000,-. Maka pengeluaran 1 bulan untuk sambal dan sayur saja mencapai Rp 180.000. Padahal jika tidak membeli dari luar, uangnya bisa digunakan untuk membayar listrik atau keperluan lain. Peserta mengaku tidak pernah mengkalkulasikan pengeluaran tersebut selama satu bulan; jika hitungan per hari sepertinya murah.

Menanam sayuran sangat mudah. Menanam kangkung, tinggal menyiapkan tanah yang telah diberi pupuk lalu benih kangkung ditebarkan. Untuk sayuran buah seperti tomat dan cabe harus disemai terlebih dahulu. Cara menyemai, rendam benih pakai air hangat atau pakai pupuk hayati khusus untuk merendam benih. Setelah disemai, cabe harus dipindahkan ke media yang lebih besar (ketika sudah tumbuh 4 daun). Menanam benih sebaiknya sore menjelang malam karena udaranya relatif dingin, cocok untuk persemaian.

SLR3Dindin mengajak peserta untuk menguji kesuburan tanah menggunakan alat sederhana. Alat terdiri dari bohlam dan kabel listrik. Tanah mengandung unsur hara yang dapat mengantarkan listrik. Sampel tanah diambil dari tanah pinggir jalan dekat balai desa dan tanah di bawah kandang kambing punya warga. Ternyata lampu akan menyala lebih terang pada tanah yang diambil di bawah kandang kambing. Hal ini membuktikan jika tanah di bawah kandang kambing mengandung unsur hara yang lebih lengkap. Peserta sangat terkesan dengan percobaan sederhana ini.

Dindin melanjutkan bahasan soal media tanam. Menanam sayuran bisa dilakukan di pekarangan rumah bahkan menempel di dinding rumah. Ada cara penanaman pola vertikal atau biasa dikenal dengan vertikultur. Bahan yang bisa digunakan untuk vertikultur adalah bambu, paralon bekas, talang air bekas, botol plastik bekas, drum bekas, gedebog pisang, maupun polibag. Kemudian Dindin menunjukkan gambar-gambar contoh vertikultur. “Barang bekas bisa dijadikan wadah menanam sayuran dan terlihat menarik. Ibu-ibu di sini pasti bisa membuat vertikultur seperti ini di pekarangan rumah” kata Dindin.

SLR4Untuk praktek membuat kompos, peserta mengumpulkan bahan-bahan yakni kotoran ternak kambing, sekam padi, gedebog pisang, serasah daun-daun, dan dedak. Secara bergantian peserta menaruh bahan kompos lalu mengaduknya hingga rata ditambah dekomposer. Dekomposer dicairkan dalam air 1 ember ukuran 10 liter. Setelah semua bahan tercampur rata, lalu ditutup dengan karung bekas agar kompos matang. Tiap 4 hari, kompos harus dibolak-balik. Kompos matang dalam 10-15 hari. Tandanya ketika disentuh kompos tidak panas, bahan sudah hancur jika direndam air sekam tidak mengambang. Untuk menanam, campur kompos dengan tanah (perbandingan 1 kompos 2 tanah).

Melalui SLR 3 ini, peserta terinspirasi untuk menanam di pekarangan rumah menggunakan wadah bekas seperti botol plastik maupun bambu yang ditata cantik. Maka harapannya bisa mengurangi belanja dapur dan keluarga pun menjadi sehat.

 

Disusun Oleh: Ratnasari (Manajer Pada Divisi Pengelolaan Pengetahuan RMI)

You may also like...