Piknik Kopi, Tren Baru Berwisata

Rencananya, hari sabtu itu kita akan berangkat pukul tujuh dari Stasiun Paledang Bogor. Namun karena tiket keretanya habis, akhirnya pake angkot. Apabila menggunakan kereta, kita naik kereta Bogor-Sukabumi, lalu turun di Stasiun Cigombong.

Mulai jalan dari Bogor sekitar pukul delapan, setengah sepuluh akhirnya sampai di Bodogol. Dilanjutkan dengan ojek sekitar sepuluh menit, akhirnya kita sampai di Kampung Ciwaluh. Cuaca pagi itu gerimis tiada henti, setelah dini harinya hujan cukup lebat.

Dian Arifin aka Doyok menyambut kami dengan senyuman. Meski gak manis-manis banget, lumayan lah bikin sedikit hangat suasana. Doyok menginstruksikan untuk mengganti pakaian, dengan pakaian siap kotor dan basah. Dan memakai jas hujan. Sementara baju ganti, bisa disimpan saja, tidak perlu dibawa saat jalan.

Kampung Ciwaluh, ternyata merupakan kampung paling ujung dari aliran Sungai Cisadane. Kampung ini berbatasan langsung dengan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Foto kedua kopi piknik

Dari kampung, kita akan berjalan sekitar dua puluh menit menuju Bumi Perkemahan Ciawitali. Jalannya merupakan pematang sawah. Dua puluh menit adalah waktu saat pematangnya kering. Karena hujan yang terus menerus selama beberapa hari terakhir, perjalanan akhirnya molor hingga satu jam. Licinnya luar biasa!“Aku biasa naek gunung, tapi ini kok lebih susah yah jalannya? Padahal cuma sawah.” Keluh Britney. Peserta open trip asal Amerika yang sudah empat tahun di Indonesia. “Alhamdulilllaahhh..” kata dia saat berhasil melewati jembatan bambu.

Sesampainya di Bumi Perkemahan Ciawitali, kita disuguhi welcome drink.piknik kopi 3 Godogan haneut, singkong goreng, pisang goreng dan jagung rebus. Godogan haneut merupakan minuman herbal campuran kapulaga dan kumis kucing. Awalnya, aromanya agak aneh. Namun saat diminum, rasa hangatnya memang cocok dengan suasana dingin di sini. Yah meski lebih hangat pelukannya si doi..

Sembari menikmati welcome drink, fasilitator memberikan informasi tentang Kampung Ciwaluh dan kegiatan open trip ini.

Meski alamnya indah dengan bentang alam yang masih sangat hijau, serta dengan suasana perkampungan yang sangat khas, ternyata Ciwaluh memiliki permasalahan yang membuat telinga terasa panas. Kebun-kebun warga yang mengapit persawahan, ternyata tanahnya diklaim milik Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Padahal mereka lebih dulu berada di lokasi ini. Hampir 40 tahun lebih dulu dibanding keberadaan TNGGP! Dan beberapa waktu lalu, petani di Ciwaluh diberi surat untuk menutup kebun garapannya.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, area ini merupakan bagian dari proyek raksasanya MNC Land. Saat dulu sempat ramai berita tentang rencana pembangunan wahana rekreasi terbesar se-Asia Tenggara, yang disponsori Donald Trump, ternyata Kampung Ciwaluh merupakan salah satu area pengembangannya. Selain wahana rekreasi, juga akan dibangun hotel bintang enam. Wow!

Bahkan, Bumi Perkemahan Ciawitali, yang dikelola anak-anak muda Kampung Ciwaluh, telah dihiasi plang larangan.

Open trip “Coffee Picnic” sabtu ini, merupakan salah satu program yang dikelola oleh anak-anak muda Kampung Ciwaluh, yang tergabung dalam kelompok Tali Bambu. Selain open trip, mereka juga mengelola program-program lain sesuai kebutuhan konsumen, juga mengelola bumi perkemahan dan air terjun.

Selesai menikmati sajian selamat datang, perjalanan dilanjutkan menuju kebun kopi. Di kebun kopi, kita berdiskusi dengan sang pemilik kebun, Empud. Menurut Empud, total luas kebun kopi di Kampung Ciwaluh sekitar dua puluh hektar.

Jangan bayangkan hamparan tanaman kopi seluas dua puluh hektar. Pohon kopi ditanam dikebun bersama dengan tanaman tanaman lainnya, seperti kapulaga dan kumis kucing. Saat musim panen, petani di Ciwaluh biasanya menjual kopi ke tengkulak. Dijual curah, artinya antara biji yang merah dan hijau dicampur.

Bolak-balik dari bumi perkemahan ke kebun kopi, kita harus menyebrang Sungai Cisadane.

Akhirnya tiba saatnya makan siang. Menunya, nasi liwet, ayam kampung bakar, sambal, lalapan dan kerupuk.

Setelah makan siang, Ambon sang mantri kebun, memperagakan pengolahan kopi Ciwaluh. Mulai dari espresso, latte, tubruk hingga cappucinno. Sayang tidak ada affogato. Ambon merupakan salah satu orang yang cukup concern dalam mengangkat nilai kopi Ciwaluh.

“Mereka punya kopi bagus, tapi kok malah minum kopi sampah sachetan” kata Ambon.

Memang, selama ini warga Ciwaluh tidak mengolah kopinya sendiri. Mereka hanya jual curah dengan harga yang sangat rendah. Inisiasi untuk menghasilkan kopi kualitas premium, dimulai oleh anak-anak Tali Bambu. Saat ini, dipasaran, kopi Ciwaluh bisa didapat dengan harga tiga puluh lima ribu per seratus gram.

Sekitar pukul dua, akhirnya kita turun. Tidak lagi berjalan kaki, namun dengan tubing. Menyenangkan!

Komang, gadis Bali yang bekerja di daerah Jakarta Selatan, satu-satunya peserta yang tidak ikut tubing. “Duh aku pengen lagi deh ikutan trip ini. Tapi kalo aku ceritain kalau jalanannya licin parah gini, pasti temen-temen kantor gak pada mau ikut.”

Sebelum pulang, suguhan terakhir disajikan di saung finish tubing. Setelah membersihkan diri dan ganti baju, ternyata hujan lagi. Akhirnya basah-basahan lagi naek ojek menuju Stasiun Cigombong!

Fahmi Rahman, 

(Divisi Pemberdayaan Masyarakat RMI)

 

You may also like...