Meneguk Manisnya Kopi Sapit

Pagi itu, seperti biasanya, Sukawandi menyempatkan untuk menikmati secangkir kopi sebelum beraktivitas seharian di hutan. Sukawandi bersama sebagian besar masyarakat di desanya memang bermata pencaharian sebagai petani. Kopi yang ia minum setiap pagi adalah kopi yang ia petik dan olah dari lahan Hutan Kemasyarakatan yang ia kelola.

Pengelolaan Sumber Daya Alam berbasis masyarakat melalui skema Hutan Kemasyarakatan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Para petani, termasuk Sukawandi, yang tergabung dalam Gapoktan HKM Sapit mengelola Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di total luas lahan 450 ha. Namun selama ini masyarakat hanya menjual basah berbagai hasil pertanian mereka, termasuk kopi.

Kopi merupakan salah satu komoditi yang banyak dihasilkan di Sapit, yakni sebanyak 10 ton per tahun, selain potensi berbagai buah-buahan lain. Sayangnya, petani belum mampu mengolah kopi hingga menjadi kopi bubuk yang siap dipasarkan. Padahal sejak dahulu masyarakat Sapit terbiasa mengolah kopi untuk dikonsumsi sendiri. Diakui Sukawandi, bahwa masyarakat belum memahami kualitas kopi yang baik sehingga belum memenuhi standar kualitas untuk dipasarkan.

“Masyarakat sudah turun temurun menanam kopi, tapi tidak mengetahui jenisnya, kualitas dan cara mengemasnya. Mereka hanya mengenal kapan memetik buahnya dan menjualnya ke tengkulak karena masyarakat tidak memiliki akses terhadap pasar”, ujar Sukawandi.

Secara historis, masyarakat Sapit terbiasa mengonsumsi kopi yang dihasilkan dari kebunnya sendiri. Mereka menyangrai biji kopi dan menumbuknya sendiri dengan menggunakan tungku. Hingga saat ini kegiatan sederhana tersebut masih dilakukan oleh sebagian masyarakat di Desa Sapit. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Sapit masih memegang tradisi lokal, terutama perihal konsumsi kopi. Memang, Desa Sapit merupakan salah satu desa di Kabupaten Lombok Timur yang masih kental akan adat istiadat dan budaya.

Masyarakat yang tinggal di desa Sapit masih mengadakan kegiatan adat dalam kehidupannya sehari-hari. Di desa seluas 1440,7 ha ini masih terdapat masjid tua yang bernilai sejarah, juga tenun dengan motif khas yang dihasilkan oleh para perempuan Desa Sapit. Meskipun jumlahnya tidak banyak, aktivitas menenun masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan potensi dari Desa Sapit, sebagaimana aktivitas pengolahan kopi. Kedua hal tersebut saat ini menjadi perhatian masyarakat desa Sapit yang ingin mewujudkan pengelolaan ekowisata di desanya.

Sejak pertengahan tahun 2016 lalu, Desa Sapit bersama lima desa lainnya di kawasan Sub DAS Poh Gading Sunggen dan Pancor Barong, menginisiasi pengelolaan Sumber Daya Alam melalui kegiatan ekowisata berbasis masyarakat yang didampingi oleh Gema Alam NTB dan Rimbawan Muda Indonesia, melalui dukungan MCA-Indonesia. Sukawandi menjelaskan bahwa pengolahan kopi di desanya diharapkan dapat mendukung kegiatan ekowisata yang saat ini sedang dalam tahap persiapan.

Sayangnya, ketidaktahuan masyarakat dalam menentukan kualitas kopi, membuatnya tidak dapat meningkatkan nilai jual dari buah tersebut. Selama ini masyarakat hanya begitu saja menjual basah pada tengkulak, yang seringkali tidak menguntungkan petani. Tidak hanya terkendala persoalan teknis pengolahan buah kopi, masyarakat juga tidak memiliki akses untuk memasarkan produk olahan kopi. Padahal kopi tergolong produk yang banyak diminati oleh masyarakat, baik nasional maupun internasional.

Peningkatan kapasitas masyarakat pengelola ekowisata di enam desa ini merupakan hal utama yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan pengelolaan ekowisata. Diawali dengan pelatihan untuk membangun pemahaman ekowisata itu sendiri, penguatan kelembagaan, hingga berbagai pelatihan teknis dalam pengelolaan ekowisata. Sukawandi dan beberapa anggota kelompok HKM dan kelompok perempuan Sapit, hari ini (23/3), mengikuti kegiatan Pelatihan Pangan Lokal dengan tema “Pengolahan Kopi”. Selain mengolah, mereka juga dibekali pengetahuan mengenai teknik pengemasan dan pemasaran.

Keterlibatan perempuan dalam pelatihan ini tentu saja sebagai upaya menciptakan ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam roda perekonomian di desa. Kelak para perempuan di Sapit bisa meningkatkan kemandirian ekonomi dan turut meneguk “manisnya” kopi Sapit .

***

Penulis : Indri Guli – Staf Knowledge Management RMI

You may also like...