River Watch Group, Kepedulian Anak Muda Terhadap Sumber Daya Alam

[BOGOR, 20 April 2017] Jaringan River Watch Group Indonesia akan mengadakan kegiatan “Main ke Hulu” pada tanggal 23-24 April 2017 di salah satu hutan adat pertama yang ditetapkan oleh Negara pasca putusan Mahkamah Agung (MK) no. 35/2012, yaitu hutan adat Kasepuhan Karang. Upaya ini dilakukan bersamaan dengan peringatan Hari Bumi 2017, sekaligus menjadi salah satu bentuk dukungan publik, khususnya generasi muda, atas ditetapkannya 9 hutan adat pertama yang diserahkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 30 Desember 2016 lalu.

Bekerjasama dengan pemuda adat Kasepuhan Karang, sebanyak 50 anak muda dari berbagai kelompok di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Sukabumi yang menjadi bagian dari River Watch Group Indonesia akan melakukan penanaman pohon di 11 mata air yang berada di salah satu bagian dari leuweung tutupan, atau hutan tutupan masyarakat adat Kasepuhan Karang. Selain itu, River Watch Group Indonesia juga akan melakukan pemantauan kualitas air dengan melakukan inventarisasi hewan-hewan avertebrata bioindikator air untuk mengambil data dasar tentang kualitas air di wilayah hutan adat tersebut.

River Watch Group Indonesia merupakan jaringan anak muda pemantau sungai di wilayah Bogor, Jakarta, Depok dan Jambi yang terdiri dari komunitas Relawan for Life, Komunitas Makekal Bersatu, Komunitas Ciliwung Depok, Teens Go Green Indonesia, Lindalang, BBC Lengkong, Hi Lo Green Community, Uni Konservasi Fauna, Pramuka SMKN 3 Bogor, dan Komunitas Teras Kali Suren.

Program River Watch Group Indonesia ini merupakan bagian dari Kampanye Sungai Kita Hidup Kita (Our Rivers Our Life/OROL). Kampanye ini dilaksanakan melibatkan anak-anak dan pemuda/i di 6 negara lain di Asia Tenggara selain Indonesia, yaitu Myanmar, Thailand, Filipina, Laos, Vietnam dan Kamboja. Kampanye OROL bertujuan untuk memperkuat keterikatan generasi muda kepada sungainya, sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem pengelolaan agraria. Selain itu, kampanye ini juga menyuarakan hak anak untuk menikmati lingkungan yang bersih dan aman (hak anak atas keadilan ekologi/Ecological Child’s Rights) di mana banyak pelanggaran terjadi akibat konflik agraria yang terjadi secara masif dalam upaya pemerintah meningkatkan sektor ekonomi negara.

Kampanye ini digagas oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI) bekerjasama dengan Sokola Rimba dan dilaksanakan oleh Relawan for Life atas dukungan Terre des Hommes Germany dan BMZ.

Narahubung:

Yayuk (Koordinator River Watch Group Indonesia/Relawan for Life): [085735005892]

——–

[Catatan Editor]

Rimbawan Muda Indonesia (RMI)

Rimbawan Muda Indonesia (RMI)adalah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya alamsejak 1992 di Bogor. Menuju visinya, RMI berupaya untuk memberikan pendampingan dalam ranah pendidikan kritis dan peningkatan kesadaran publik berkenaan dengan isu sumber daya alam berbasis masyarakat. Info lebih lanjut www.rmibogor.id

OROL

OROL merupakan kampanye regional Asia Tenggara yang dimulai di region Mekong tahun 2007 untuk kepastian agar anak mendapatkan hak untuk mendapatkan lingkungan yang terbaik bagi tumbuh kembang anak. Salah satunya melalui promosi ECR (Ecological Child’s Rights; Hak Anak atas Keadilan Ekologis) untuk mendorong kebijakan yang memerhatikan hak anak dan hak atas lingkungan yang menjamin tumbuh kembang anak. (http://ourriversourlife.blogspot.co.id/p/contact-us-orol-campaign-partners.html)

River Watch Group Indonesia

“Kelompok Pengamat Air” River Watch Group (RWG) Indonesia merupakan kelompok pemuda dari berbagai komunitas yang secarabersama-sama mengamati kondisi sungai disekitar tempat hidup mereka. RWG juga merupakan wadah bagi anak muda untuk mewujudkan harapan mereka sebagai pelopor perubahan di lingkungan. Saat ini telah bergabung 10 kelompok anak muda yang terdiri dari karang taruna, kelompok belajar, unit kegiatan mahasiswa, pramuka SMA hingga kelompok pecinta lingkungan yang berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Kegiatan River Watch Group (RWG) telah berjalan sejak 2013. Bentuk kegiatan yang dilakukkan sangat beragam seperti mengenalkan sumberdaya alam sambil belajar bahasa Inggris, pemantauan kualitas sungai menggunakan hewan avertebrata air, dan berbagai aksi lain seperti membuat lubang biopori di perumahan, dokumentasi foto dan pembuatan film beberapa titik sungai, dan pembibitan pepohonan endemik.

Hutan Adat Kasepuhan Karang

Hutan Adat Kasepuhan Karang merupakan satu-satunya hutan adat di pulau Jawa yang ditetapkan oleh Negara pasca putusan MK 35/2012 dimana hutan adat ditetapkan sebagai hutan hak masyarakat adat, dan bukan lagi merupakan hutan negara. Hutan Adat Kasepuhan Karang yang ditetapkan seluas 486 hektar yang terdiri dari leuwueng tutupan, leuweung paniisan, cawisan dan garapan merupakan sumber penghidupan masyarakat adat Kasepuhan tersebut dan telah dikelola dengan aturan adat sejak ratusan tahun lalu. Hutan Adat Kasepuhan Karang dikeluarkan oleh negara dari fungsi konservasi negara di bawah Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Info lebih lanjut: http://rmibogor.id/2016/12/30/hutan-adat-kasepuhan-karang-resmi-diakui-presiden/

You may also like...