Festival Ekowisata: Mengangkat Kesenian Lokal dan Ekonomi Kreatif Enam Desa Kawasan di Lombok Timur

(Musik Gamelan Kampung Mekarsari  turut memeriahkan acara Festival Ekowisata, RMI: 2017)

(Musik Gamelan Kampung Mekarsari turut memeriahkan acara Festival Ekowisata, RMI: 2017)

Penulis: Ratnasari ( Project Manager MCAI-RMI)

Belajar Tenun merupakan salah satu rangkain acara Festival Ekowisata)

Belajar Tenun merupakan salah satu rangkain acara Festival Ekowisata, RMI: 2017)

Kesenian rudat yang ditampilkan oleh Sanggar Seni Rudat Desa Beririjarak mengawali acara Pembukaan Festival Ekowisata pada tanggal 23 November 2017 di hutan Gawar Gong Desa Beririjarak. Gawar Gong seluas 30,33 ha menjadi salah satu lokasi ekowisata yang dikembangkan dengan konsep Eduforest on Community Based Ecotourism. Lokasi ini masuk dalam wilayah kerja KPH Rinjani Timur, berada pada ketinggian sekitar 400-600 m dpl dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) bagian Tenggara. Area Gawar Gong disulap menjadi bazar produk masyarakat, sekolah tenun, area belajar pengolahan kopi dan ekstrak jahe, dan panggung pentas seni. “Festival Ekowisata adalah yang pertama kali dilakukan di Lombok Timur bahkan di Propinsi NTB dan acara yang unik karena biasanya festival dilakukan di tengah kota atau lapangan terbuka, kali ini festival dilakukan di hutan” demikian pernyataan Bapak Ahya Mudin, Kabid Dinas Pariwisata Lombok Timur dalam pembukaan Festival Ekowisata.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Penguatan Inisiasi Ekowisata Berbasis Masyarakat yang Adil dan Berkelanjutan sebagai Sumber Penghasilan Alternatif Perempuan Menuju Kemandirian Ekonomi Rendah Karbon dan Perubahan Kualitas Hidup Perempuan di Lombok Timur” yang dilaksanakan oleh Konsorsium Rimbawan Muda Indonesia (RMI) dan Gema Alam NTB yang didukung oleh MCA Indonesia. Kegiatan ini sebagai ajang untuk mengangkat ekowisata berbasis masyarakat yang diinisiasi sejak tahun 2016 dan mempromosikannya secara lebih luas pada publik termasuk produk-produk ekonomi kreatif masyarakat.

(Produk Bazar dalam Festival Ekowisata, RMI: 2017)

(Produk masyarakat dalam Festival Ekowisata, RMI: 2017)

Produk-produk masyarakat enam desa ditampilkan dalam bazar produk. Desa Beririjarak menampilkan produk kopi, kerajinan daur ulang sampah plastik, dan kuliner jamur tiram. Desa Suela menampilkan kuliner pangan lokal, Desa Sapit menampilkan produk kopi, Desa Jurit Baru menampilkan produk gula aren, Desa Mekarsari menampilkan produk ekstrak jahe dan kerajinan dari ranting kayu. Desa Pringgasela Selatan menampilkan produk ragam tenun. Pada Festival Ekowisata, pengunjung dapat belajar tenun bersama penenun dari Kelompok Nine Penenun Pringgasela Selatan, belajar pengolahan kopi bersama Kelompok Perempuan Kreatif (Kompak) Desa Sapit, dan belajar pengolahan ekstrak jahe bersama Kelompok Wanita Terampil (KWT) Puncak Semaring Desa Mekarsari.

(Iringan Adat Sapit dalam Festival Ekowisata, RMI:2017)

(Iringan Adat Sapit dalam Festival Ekowisata, RMI:2017)

Festival Ekowisata ini juga menampilkan kesenian lokal berupa seni tari dan teater anak-anak MTS Negeri 3 Lombok Timur. Tarian yang ditampilkan seperti Tari Dayang-dayang dan Gandrung yang menyedot perhatian pengunjung Festival Ekowisata. Kemudian puncak acara pembukaan Festival Ekowisata ini ditandai dengan “Peluncuran (launching) Ekowisata di Enam Desa Kawasan” bersama Dinas Pariwisata, Camat Wanasaba, Kepala KPH Rinjani Timur, Kepala UPTD Kebun Raya Lemor, RMI, dan Gema Alam NTB. Bapak M. Saleh, Camat Wanasaba, berkenan memukul gong tanda diresmikannya peluncuran ekowisata di enam desa kawasan. Peluncuran ini disaksikan langsung oleh media lokal antara lain Selaparang TV, NTB Post, juga Bakti yang akan menyebarluaskan pada publik baik nasional bahkan internasional melalui media online.

(Repling dalam kegiatan Festival Ekowisata, RMI: 2017)

(Repling dalam kegiatan Festival Ekowisata, RMI: 2017)

Rangkaian Festival Ekowisata juga menyelenggarakan program Rute Pendidikan Lingkungan (Repling) di hutan Gawar Gong Desa Beririjarak pada hari Minggu tanggal 26 November 2017. Sekitar 50 anak sekolah dari Desa Beririjarak dan Suela mengikuti program Repling yang difasilitasi oleh Kelompok Gerakan Pemuda Untuk Perubahan (Gapura) Desa Beririjarak dan RMI. Anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan ini karena mereka dapat belajar sambil bermain di hutan Gawar Gong. “Saya sukanya pas main Peta Suara, dengerin suara burung, burungnya kayak lagi nyanyi” ujar Nanda kelas 4 SD dari Desa Suela.

Acara Penutupan Festival Ekowisata di area Langgar Pusaka Desa Sapit diselenggarakan pada hari Senin 27 November 2017. Kelompok Seni Gamelan mengawali acara dengan menyuguhkan irama khas Sasak. Gamelan biasa ditampilkan pada acara bagawe desa dan adat di wilayah Nusa Tenggara Barat.

(Launching Ekowisata, RMI; 2017)

(Launching Ekowisata, RMI; 2017)

Pada acara ini dilakukan “Peluncuran Kampung Budaya Langgar Pusaka Desa Sapit” melalui prosesi adat oleh pemangku adat Desa Sapit dan ditandai dengan pemukulan kul-kul oleh Bapak Ahya Mudin (Kabid Dinas Pariwisata). Langgar Pusaka Desa Sapit merupakan situs adat tertua yang masih dipertahankan di Propinsi NTB. Langgar Pusaka digunakan sebagai lokasi ritual adat keagamaan seperti Maulid Adat bagi warga Desa Sapit.

(Talkshow tentang Ekowisata, RMI; 2017)

(Talkshow tentang Ekowisata, RMI; 2017)

Talkshow (sarasehan) tentang ekowisata dilakukan dengan mengundang Bapak Ahya Mudin (Kabid Dinas Pariwisata Lotim), Sukawandi (Ketua Forum Batur Bongkot/Forbongkot), Nani Mulyana (Ketua Koalisi Nine Desa Kawasan), dan Nina Hermidah (MCAI). Pada intinya terbentuknya Forbongkot dan Koalisi Nine Desa Kawasan dapat menjadi media komunikasi dan advokasi enam desa kawasan dalam mendukung upaya ekowisata berbasis masyarakat yang sedang dikembangkan. “Koalisi Nine Desa Kawasan dibentuk untuk mendorong kesadaran kritis perempuan sebagai mitra sejajar bersama laki-laki dalam ekowisata berbasis masyarakat” demikian pernyataan Nani Mulyana dalam talkshow. Bapak Ahya Mudin mengungkapkan bahwa ekowisata sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian rakyat dan mengangkat tradisi budaya lokal, seperti diungkapkan oleh beliau, “Potensi Lombok Timur sangat luar biasa, ada tradisi budaya lokal dan produk-produk masyarakat yang dapat dikemas dalam paket ekowisata yang menarik, apalagi ditunjang dengan promosi online yang dapat menjangkau dunia, saya yakin ekowisata Lombok Timur dapat berkembang pesat”.

(Juara dua homestay dalam rangkain Festival Ekowisata, RMI: 2017)

(Juara  2 homestay dalam rangkain Festival Ekowisata, RMI: 2017)

Acara penutupan Festival Ekowisata diakhiri dengan pengumuman pemenang Lomba Homestay. Kriteria homestay secara umum ada tiga yaitu 1) secara fisik berupa rumah minimal punya 1 kamar dengan pencahayaan dan sirkulasi udara baik, kamar mandi yang bersih, ada fasilitas pendukung seperti dapur, 2) pelayanan berupa sikap pemilik yang komunikatif dan proaktif, 3) tata kelola administrasi yang tertib termasuk mengutamakan keamanan dan keselamatan tamu mengacu pada Sapta Pesona. Penilaian lomba dilakukan dengan mengunjungi homestay satu per satu agar dapat melihat langsung fisik homestay, lingkungan sekitar homestay, dan berdiskusi dengan pemilik homestay. Ada lima pemenang dalam lomba ini yakni Juara 1 oleh Homestay Sekar Tunggal Desa Suela (Ibu Dewi), Juara 2 oleh Homestay Lestari Desa Beririjarak (Ibu Maemunah), Juara 3 oleh Homestay Pandi Raja Desa Sapit (Bapak Abdul Hadi), Juara Harapan oleh Homestay Sasambo Desa Pringgasela Selatan (Bapak Kusman Jayadi), dan Juara Favorit oleh Homestay Bunga Rosa Desa Suela (Ibu Fani).

You may also like...