Festival Hutan Adat Pertama di Indonesia

 

(Dirjen Perhutanan Sosial Kemitraan dan Lingkungan (PSKL); Dr. Bambang Supriyanto, M.Sc, Bupati Lebak; Hj. Iti Octavia Jayabaya, SE, MM, Jajaran Bank BTN, Koalisi Hutan Adat dalam acara Pembukaan Festival Hutan Adat

(Dirjen Perhutanan Sosial Kemitraan dan Lingkungan  (Dr. Bambang Supriyanto, M.Sc), KSP (Usep Setiawan),  Bupati Lebak (Hj. Iti Octavia Jayabaya, SE, MM), Kepala Desa Jagaraksa (Jaro Wahid), Perwakilan dari  Koalisi Hutan Adat dalam acara Pembukaan Festival Hutan Adat di Leuweung Adat Kasepuhan Karang, Sabtu, 16/12 (Foto/Aldi)

 

Penulis: Yosfi Aldi (Manager Knowledge Management RMI)

Novytya Ariyanti (Staff knowledge Management RMI)

Jagaraksa– Dalam rangka memperingati satu tahun penetapan hutan adat sejak ditetapkannya 28 Desember 2016 lalu, Rimbawan Muda Indonesia (RMI) bekerja sama dengan Kasepuhan Karang dan Pemerintah Kabupaten Lebak serta didukung oleh Terre des Hommes Germany (TDH), The Asia Foundation, Kemitraan, dan HuMa menyelenggarakan Festival Hutan Adat di Leuweung Adat Kasepuhan Karang.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengapresiasi kerja-kerja para pihak yang telah berkontribusi pada pencapaian ini. Di samping itu, festival ini juga ingin mengangkat pengalaman empiris yang dilakukan oleh para pihak pascapenetapan hutan adat untuk dijadikan bahan advokasi ke depannya,” kata Direktur Eksekutif RMI, Mardha Tillah, setelah pembukaan acara festival di Cepak Situ, Sabtu (16/12).

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat hukum adat yang terbukti bisa menjaga dengan lestari dan berkelanjutan juga menjadi bagian dari tujuan lain diselenggarakannya festival hutan adat yang dilaksanakan selama dua hari ini.

Meskipun diguyur hujan saat acara berlangsung, namun hal tersebut tidak menghentikan semangat masyarakat kasepuhan untuk melanjutkan acara. Antusias tinggi tidak hanya ditunjukan oleh Masyarakat Kasepuhan Karang sebagai tuan rumah, melainkan beberapa Kasepuhan lainnya seperti Kasepuhan Cirompang, Kasepuhan Pasir Eurih, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cicarucub serta kasepuhan lainnya yang masuk dalam anggota SABAKI. Mereka berkumpul di titik penyambutan kedatangan, dengan membunyikan lesung dan angklung untuk meramaikan acara. Hadir dalam acara ini Dirjen Perhutanan Sosial Kemitraan dan Lingkungan (PSKL); Dr. Bambang Supriyanto, M.Sc, Bupati Lebak; Hj. Iti Octavia Jayabaya, SE, MM, Jajaran Bank BTN, Koalisi Hutan Adat; AMAN Sulawesi Selatan, YMP Palu, Bantaya Palu, KKI Warsi, QBAR Sumatera Barat, Akar Foundation, JKMA Aceh,  organisasi masyarakat sipil, dan para undangan lainnya.

(Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, SE, MM memberikan sambutan dalam acara Festival Hutan adat , Sabtu (16/12); Foto Aldi)

(Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, SE, MM memberikan sambutan dalam acara Festival Hutan adat , Sabtu (16/12); Foto Aldi)

Acara pembukan berlangsung di saung bambu dengan atap anyaman daun kirai, Cepak Situ yang menjadi tempat alternatif ketika hujan mengguyur panggung dengan anyaman bambu yang telah tersedia di leuweung adat. Mengawali acara tersebut, Bupati Lebak,  Iti Octavia Jayabaya, mengatakan bahwa penetapan hutan adat sangat sejalan dengan progam pembangunan Kabupaten Lebak, yaitu Lebak Sehat, Lebak Pintar, dan Lebak Sejahtera.

“Kabupaten Lebak menargetkan satu hutan adat bisa ditetap setiap tahunnya di mana sekarang sedang berproses dua hutan adat kasepuhan, yaitu Hutan Adat Kasepuhan Cirompang dan Kasepuhan Pasir Eurih. Berharap penetapan hutan adat Kasepuhan Karang dapat menyejahterakan masyarakat dan hutannya juga dapat dijaga dengan baik,” kata Iti Octavia Jayabaya.

Di akhir sambutannya, ia mengucapkan terima kasih kepada RMI (dan lembaga lainnya) yang telah melakukan advokasi hingga penetapan hutan adat Kasepuhan Karang. Menurutnya, setelah pasca penetapan hutan adat ini yang sama-sama bisa dilakukan ialah memperkuat upaya pemberdayaan kepada masyarakat.

Dirjen PSKL-KLHK, Bambang Supriyanto mengakui bahwa pengelolaan hutan oleh masyarakat adat sangat bersesuaian dengan prinsip-prinsip konservasi dan sekaligus membantah kekuatiran pihak-pihak yang belum percaya kepada masyarakat (adat) dalam mengelola hutan. Negara sangat terbantu dengan penetapan hutan adat dimana hutan langsung dijaga oleh masyarakat.

“Kita jangan larut dengan nostalgia (penetapan hutan adat), namun harus memikirkan bagaimana ke depannya. Oleh sebab itu, lanjutnya, perlu sinergi pemerintah, LSM, dan pihak swasta di bagian hilirnya,” kata Bambang Supriyanto saat menutup sambutannya.

Sementara itu, Kepala Desa Jagarkasa, Jaro Wahid yang mewakili masyarakat adat Kasepuhan Karang, menyampaikan rasa terima kasih ke semua pihak yang terlibat dalam penetapan hutan adat Kasepuhan Karang hingga terlaksananya Festival Hutan Adat ini. Ia berhadap hutan adat kasepuhan lainnya dapat dipercepat penetapannya.

“Kami sangat mengharapkan setelah acara festival ini, pengawalan dan pendampingan untuk pengajuan hutan adat Kasepuhan Pasir Eurih dan kasepuhan lainnya bisa dilakukan dengan maksimal,” ujar Abah Aden, Olot Kasepuhan Pasir Eurih yang turut hadir dalam acara tersebut.

Acara festival berlangsung khidmat ditandai dengan adanya  pemotongan tumpeng bersama. Kemudian acara dilanjutkan dengan  seminar reforma agraria, serta peresemian Pesona Meranti Cepak Situ oleh Bupati Lebak.  Di samping itu, terdapat layanan kesehatan dan  layanan kependudukan, serta pameran produk pangan lokal dari Masyarakat Kasepuhan.  Di malam hari akan ada cara kesenian dan tradisi masyarakat kasepuhan seperti jaipongan dan wayang golek. Acara festival di hari kedua ialah berupa beberapa workshop  yang diperuntukkan bagi masyarakat kasepuhan guna peningkatan kapasitas masyarakat. Selain itu, terdapat beragam perlombaan untuk anak-anak kasepuhan di Cepak Situ.  Tak kalah serunya ada Tim Glamping yang melakukan tracking menuju curug (air terjun) yang merupakan aset wisata alam Pemuda Adat Karang.

You may also like...