Jampe Nadisikuku; Pemuda Adat Kasepuhan Ikuti Pelatihan Menulis

Peserta Pelatihan Penulisan, Foto/dokuemntasi RMI 2017, Minggu,(17/12)

Peserta Pelatihan Penulisan, Foto/dokuemntasi RMI 2017, Minggu,(17/12)

 

Penulis: Yosfi A (Manager Knowledge Management RMI)

Bukan tidak mungkin suatu saat nanti budaya di suatu tempat akan hilang mengingat proses peralihan pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda kerapkali tidak berjalan dengan baik. “Agar tidak hilang maka menuangkannya ke dalam bentuk tulisan menjadi cara yang baik dan mengembalikan kembali kekayaan tersebut kepada pemiliknya,” demikian diungkapkan oleh Partnership for Governance Reform in Indonesia, Communication Specialist, Asriyadi A, setelah memberikan pelatihan penulisan di Kasepuhan Karang, Minggu (17/12).

Saat ini, sedikit diantara pemuda adat yang mengetahui tentang pengetahuan  budaya dan sejarah Kasepuhan. Hal ini karena mereka beranggapan bahwa pengetahuan-pengetahuan tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang tua atau pemuka adat. Selain itu, pemuda adat kurang menyadari bahwa pengetahuan-pengetahuan tersebut merupakan kekayaan Kasepuhan yang boleh diketahui oleh semua orang termasuk para pemuda. Menjembatani hal tersebut, pelatihan menulis ini menjadi ‘penting’ untuk membantu mendistribusikan pengetahuan-pengetahuan yang tidak merata tersebut.

Pelatihan menulis ini melibatkan 14 pemuda adat dari tiga Kasepuhan (Karang, Pasir Eurih, dan Cirompang). Tujuan dari pelatihan ini ialah untuk pengikatan kapasitas pemuda adat untuk menggali potensi yang dimiliki oleh masing-masing Kasepuhan, yang kemudian diharapkan mereka dapat menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Lebih jauh lagi, tulisan-tulisan yang mereka hasilkan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

(Pemuda adat dari tiga Kasepuhan mengikuti pelatihan menulis, foto: dokumentasi RMI; 2017)

(Pemuda adat dari tiga Kasepuhan mengikuti pelatihan menulis, foto: dokumentasi RMI; 2017)

Pelatihan menulis ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Pengelolaan dan Penggalian Data secara Partisipatif oleh Generasi Muda pada 4-5 Agustus 2017 melalui dukungan Program Peduli Fase III.  Di mana pada pelatihan tersebut membahas tentang cara pengambilan data tentang mengenali kekayaan sosial dan budaya mereka.

Pada sesi pelatihan, Asriyadi A, yang juga bertindak sebagai fasilitator, mendorong semangat pemuda adat untuk bisa lebih berperan di masyarakat melalui karya tulisan. Ia memberikan panduan praktis untuk dapat membuat sebuah tulisan dengan menyugguhkan jampe Sunda. Jampe Sunda tersebut ialah Nadisikuku. Nadisikusi yaitu pertanyaan dasar (5W+1) yang dikemas dalam Bahasa Sunda; (Na: Naon; Di: Dimana; S: Saha; I:Iraha; Ku: Kumaha; Ku:Kunaon).

Selian itu, ia juga menceritakan pengalamannya bersama pemuda pedesaan di daerah dampingannya.  Di mana pemuda pedesaan yang jauh dari kata maju mampu berkarya lewat tulisan-tulisan yang mereka lahirkan, bahkan banyak diantara mereka yang tidak lulus sekolah dasar. Namun ketika pemuda desa ini betekad untuk belajar menulis hingga mereka berhasil menulis dan menghasilkan sebuah karya.

Salah satu peserta dari Kasepuhan Cirompang, Manil (21), merasa menemukan semangat baru setelah mengikuti pelatihan ini. Bahkan ia berkeinginan untuk membuat tulisan setiap bulannya dan menularkan pengetahuan ini kepada teman-temannya yang tidak mengikuti pelatihan.

You may also like...