Selayang Pandang Perubahan Aspek Sosial-Ekonomi Masyarakat Baduy

Gambar 1. Terminal Ciboleger di Desa Bojongmanik, Kecamatan Leuwidamar, Lebak.

Matahari belum lama beranjak dari peraduannya ketika beberapa pemuda Baduy Luar melangkahkan kaki ke luar dari perkampungannya. Pakaian hitam-hitam yang para pemuda itu kenakan kontras dengan hijaunya tandan-tandan pisang yang mereka panggul. Dengan tegap, para pemuda Baduy Luar itu berjalan bolak balik membawa pisang-pisang tersebut dari leuit (lumbung) di rumah-rumah mereka ke ‘Terminal Ciboleger’. Terminal yang dimaksud bukanlah terminal besar dengan deretan bus-bus besar. Terletak di muka Kampung Ciboleger, terminal itu hanya dijejali oleh beberapa mobil elf, angkutan umum, dan mobil bak terbuka berwarna hitam kusam. Kendaraan itu berderet-deret menanti kedatangan penumpang yang akan diantarkan ke lokasi tujuannya masing-masing.

Kesederhanaan terminal tersebut tentu bukan satu persoalan besar bagi para penduduk sekitar, termasuk Masyarakat Baduy Luar, karena bagi mereka yang terpenting adalah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Namun bagi Masyarakat Baduy Luar persoalannya tidak hanya itu. Ada tandan-tandang pisang—dan berbagai hasil bumi lainnya—yang harus mereka jaga supaya kualitasnya tetap baik ketika sampai di tempat tujuan. Tandan pisang yang dengan giat dipikul oleh para pemuda Baduy Luar itu akan diangkut untuk dijual ke Pasar Rangkas. Penat yang dirasakan para pemuda Baduy Luar kemudian digantikan dengan rasa senang ketika kantung uang tradisional miliknya terisi lembaran uang puluhan ribu.

Akses Fisik dan Keterbukaan Ekonomi

Transaksi ekonomi Masyarakat Baduy yang berputar secara terus menerus, hari demi hari, ini terlihat begitu sederhana. Namun hal tersebut, tanpa disadari, telah mengundang hadirnya persepsi lain di mata orang-orang yang baru pertama kali menginjakan kaki di Baduy dan menyaksikan kegiatan mereka secara langsung. Masyarakat Baduy ternyata menjalin interaksi yang cukup intensif dengan masyarakat non-adat, tidak sepenuhnya menarik diri dari ‘kehidupan lain’ di luar dunianya, beberapa kali pergi menjelajahi daerah yang nampak asing baginya, juga menggunakan uang sebagai alat transaksi ekonomi. Pemahaman ini tentu membantah dengan telak anggapan bahwa sepanjang hidupnya masyarakat adat tinggal di pedalaman hutan dan berkoloni dengan sesama masyarakatnya saja. 

Persepsi baru tentang kehidupan Masyarakat Baduy tersebut tidak serta merta muncul. Pemahaman bahwa ‘sergapan pembangunan’ yang gencar terjadi di seputar tempat tinggal Masyarakat Baduy pada dasarnya membawa dampak signifikan terhadap perubahan pola penghidupan Masyarakat Baduy. Misalnya bahan pangan yang dikonsumsi sehari-hari oleh Masyarakat Baduy Luar dan Dalam ternyata tidak semuanya diproduksi dari huma (ladang) mereka sendiri.

Perlu dipahami bahwa adanya gelombang keterbukaan ekonomi menggiring perubahan pola penghidupan pada semua kalangan Masyarakat Baduy—termasuk perempuan. Sebagian besar orang mungkin menganggap bahwa perempuan Baduy hanya aktif di ranah privat saja sehingga kontaknya dengan pihak luar pun lebih terbatas dibanding laki-laki Baduy. Tapi kondisi di lapangan tidak berkata demikian. Perempuan-perempuan Baduy—terutama Baduy Luar—nyatanya giat merajut kain tenun untuk dijual kepada pengunjung perkampungan Baduy Luar yang terus berdatangan. Aktivitas merajut dan menjual kain tenun ini telah digeluti oleh perempuan Baduy sejak beberapa tahun terakhir.

Berbicara tentang cara keluarga Baduy memenuhi kebutuhan hariannya, masih segar dalam ingatan ketika menyaksikan seorang ibu Baduy Luar tengah berbelanja di satu warung ‘Pasar Ciboleger’. Pagi itu, caping bambu lebar yang dikenakan sang ibu meneduhi anak paling kecil dalam gendongannya. Sementara itu sang kakak menanti dengan sabar—mungkin diam-diam dia juga menunggu ibunya berbaik hati menawarkan dirinya membeli satu atau dua jenis makanan yang dia sukai. Tidak lama setelah ibu dan kedua anaknya pergi dari warung, ibu-ibu Baduy Luar lainnya datang silih berganti. Membeli beragam barang yang dibutuhkan untuk mengisi kembali dapurnya masing-masing.

Gambar 2. Seorang ibu Baduy Luar—membawa dua orang anaknya—membeli bahan pokok di warung ‘Pasar Ciboleger’.

Selain membeli barang-barang kebutuhannya, Masyarakat Baduy juga menjual hasil panen dari huma kepada masyarakat yang lebih luas. Contoh jelas mengenai kondisi ini tergambar dari kegiatan Masyarakat Baduy Luar ketika menjual tandan-tandan pisang dan hasil panen lain yang dimilikinya. Hal ini menunjukan bahwa hasil panen yang dimiliki Masyarakat Baduy sebenarnya tidak melulu dikonsumsi sendiri. Ada nilai tambah secara ekonomis yang didapat oleh Masyarakat Baduy ketika menjual hasil panen dari huma-nya tersebut.

Di samping telah mengenal transaksi jual beli, terjadi perubahan juga dalam pola kegiatan ekonomi skala rumahan Masyarakat Baduy Luar. Perempuan-peremuan Baduy dikenal dengan keterampilannya menenun kain-kain bercorak indah yang menjadi ciri khas mereka. Aktivitas menenun kain mengisi relung kehidupan perempuan Baduy dan hal tersebut menjadi penting bagi mereka karena aktivitas tersebut telah diajarkan sedari kecil. Meluasnya dampak pembangunan yang terjadi di sekitar tempat tinggal Masyarakat Baduy, salah satu perubahan paling kentara dapat dirasakan dalam kegiatan menenun kain ini.

Dulu benang-benang dipintal dari kapas lalu ditenun dengan telaten oleh jari jemari perempuan Baduy sampai menjadi lembaran kain-kain lembut; semuanya dilakukan untuk kepentingan pribadi. Kain-kain itu digunakan sebagai bahan dasar membuat pakaian yang akan dikenakan oleh mereka sehari-hari. Warna kain yang dihasilkan pun rata-rata seragam: putih atau hitam. Kain juga jarang ditambahkan motif khusus yang dapat memperindah tampilan pakaian. Namun dengan hadirnya orang-orang non-adat yang hilir mudik mengunjungi perkampungan Baduy, permintaan terhadap kain-kain yang dibuat oleh mereka pun bermunculan. Lambat laun kain-kain ditenun untuk dijual kembali, tidak lagi untuk dipakai sendiri. Orang-orang luar yang tertarik membeli kain tenun Baduy juga sering meminta penenun untuk menambahkan motif-motif tambahan pada kain yang dipesan. Hal demikian berdampak pada meningkatnya variasi jenis, warna, dan motif kain yang dibuat oleh perempuan-perempuan Baduy saat ini.

Gambar 3. Kain-kain tenun dan cenderamata khas Baduy dipajang di beranda rumah seorang warga Baduy Luar.

Pola kegiatan ekonomi dan sumber pendapatan keluarga Baduy berubah. Tidak hanya menyandarkan penghidupannya dari sektor pertanian, penjualan kain tenun pun menjadi sumber pendapatan yang cukup menjanjikan. Berjalan-jalan di antara rumah keluarga Baduy Luar menjadi hal yang menyenangkan karena di setiap beranda rumah terdapat pajangan kain tenun Baduy berbagai motif dan warna. Ibu-ibu Baduy Luar membentangkan kain yang tengah ditenunnya, memperhatikan bagaimana lipatan kain saling terjalin membentuk motif-motif elok. Anak-anak perempuan, dengan senyum terkembang di bibirnya, dengan senang hati memutar kincir (bulatan kayu dibuat untuk memutar benang-benang yang sedang ditenun) sekaligus memastikan benang-benang yang berjajar satu demi satu. Di rumah lainnya, seorang anak laki-laki bernama Armin tidak kalah giatnya membantu ibunya memutar benang-benang putih supaya tidak terbelit.

Gambar 4. Seorang ibu Baduy Luar sedang menenun kain dibantu oleh anak laki-lakinya.

Menurut penjelasan Ibu Minah, seorang ibu Baduy Luar, semua alat tenun dibuat secara tradisional oleh suaminya. Kayu dan bambu diambil dari huma oleh suaminya, kemudian dibentuk sedemikian rupa menjadi berbagai alat tentun dengan fungsinya yang bervariasi. Perlu usaha ekstra untuk menghasilkan satu lembar kain tenun berukuran 2 x 2 meter. Untuk merampungkan pekerjaan tersebut, diperlukan sekitar 20 hari waktu pengerjaan. Sembari menjaga totogan (lempengan kayu tipis memanjang yang berfungsi untuk menahan kain tenun supaya tetap stabil), Ibu Minah bercerita bahwa dia akan mendapatkan uang sebesar Rp. 300.000 setiap menjual kain tenun ukuran 2 x 2 meter. Saat ini perempuan-perempuan Baduy pun lebih proaktif ‘menjemput bola’, kain-kain hasil tenunannya dititipkan ke toko-toko suvenir Baduy di ‘Pasar Ciboleger’. Tidak hanya kain tenun, keluarga Baduy Luar juga membuat beragam buah tangan dari kayu dan akar tanaman koja yang ditawarkan kepada para pengunjung.

Tantangan yang Mengintai

Secara kasat mata, pembangunan yang terjadi mungkin dinilai membantu perekonomian dan penghidupan Masyarakat Baduy—terutama Baduy Luar—menjadi lebih baik. Namun definisi baik itu sendiri pun begitu dilematis. Jika ditelusuri lebih dalam, beberapa kegamangan juga terasa melingkupi kehidupan Masyarakat Baduy. Kegamangan ini disampaikan oleh Kang Sanip, salah seorang warga Baduy Dalam. Kang Sanip—dengan pakaian serba putih dan ikat kepala yang menutupi rambut hitamnya—mengutarakan bahwa dengan pesatnya perubahan situasi hidup Masyarakat Baduy saat ini, dia khawatir bila ajaran adat semakin dilupakan (terutama oleh generasi muda Baduy).

Kekhawatiran Kang Sanip memang beralasan, anak-anak Baduy Luar saat ini telah memiliki telepon genggam. Ketika malam tiba; anak-anak tersebut bergerombol, asik duduk bermain telepon genggam hingga larut malam. Generasi muda Baduy yang terbiasa bergelut dengan kemajuan teknologi—dalam hal ini telepon genggam—dikhawatirkan akan berkurang minat dan rasa tanggung jawabnya dalam melestarikan adat istiadat, tradisi, dan budaya Baduy.

Baduy memang dikenal sebagai salah satu masyarakat adat yang sangat menggenggam erat nilai-nilai dan kearifan lokalnya. Mereka membatasi pengaruh-pengaruh asing yang dinilai negatif dan berusaha masuk ke dalam lingkaran kehidupannya. Selain kekhawatiran yang disebabkan oleh serbuan teknologi dan informasi, akses transportasi yang tersedia di Terminal Ciboleger juga mengundang kekhawatiran ibu-ibu Baduy Luar. Mereka khawatir apabila anak-anaknya bermain terlalu jauh tanpa mengabari orang tua dan saudara-saudaranya. Demikianlah cerita yang juga disampaikan oleh Ibu Asih. Berbagai kemajuan teknologi dan informasi yang saat ini telah merebak dalam kehidupan Masyarakat Baduy Luar dikhawatirkan akan membawa kemungkinan-kemungkinan negatif terhadap perilaku dan cara bermain buah hatinya.

Akhirnya, perubahan-perubahan yang terjadi dalam dimensi kehidupan Masyarakat Baduy memang merupakan suatu keniscayaan. Bagaikan dua mata koin yang berbeda, perubahan sosial dan pembangunan yang berlangsung dapat membawa pengaruh positif dan negatif bagi Masyarakat Baduy itu sendiri. Adaptasi terhadap pembangunan-pembangunan itu memang diperlukan supaya perubahan yang berlangsung dapat membawa manfaat yang optimal, namun tetap selaras dengan terjaganya kelestarian adat istiadatnya. Perlu direnungkan apakah pembangunan itu merupakan hal yang disepakati bersama oleh berbagai kalangan Masyarakat Baduy. Perlu juga digarisbawahi apakah Masyarakat Baduy tersebut benar-benar memahami perubahan yang tengah terjadi dan bagaimana dampak perubahan tersebut bagi kehidupannya.




Penulis: Supriadi
Ditulis berdasarkan observasi lapang pada 7-9 November 2018 atas dukungan Program Peduli.

You may also like...