Changes in the Perception of Life of the Youth Generation of Kasepuhan Cibedug

The sun had just risen when a 14 years old young man stepped out of the house wearing a long sleeve shirt, trousers, and a cap that made him look the same as a child of his age. This assumption changed momentarily. He carried a hoe and kaneron (a bag made of sacks). “Arek ka sawah.” Going to the Selengkapnya tentangChanges in the Perception of Life of the Youth Generation of Kasepuhan Cibedug[…]

Perubahan Persepsi Kehidupan Generasi Muda Adat Kasepuhan Cibedug

Matahari belum lama beranjak dari peraduannya ketika pemuda berusia 14 tahun melangkahkan kaki keluar rumah menggunakan baju lengan panjang, celana panjang, dan topi yang membuat ia terlihat sama dengan anak seumurannya. Anggapan tersebut sesaat berubah. Ia  membawa pacul dan kaneron (tas yang terbuat dari karung). “Arek ka sawah.” Ingin ke sawah, katanya. Sawah adalah tempat Selengkapnya tentangPerubahan Persepsi Kehidupan Generasi Muda Adat Kasepuhan Cibedug[…]

Serial Discussion on Wellbeing Instrument and Concept Development

Today’s development agenda is built on the assumption that the economy is the main indicator of wellbeing. Gross Domestic Product (GDP) is still widely used to measure growth and show economic status/level. This has led to the currently popular approach taken by the Indonesian government is an open economy/liberalization in the natural resource sector, where investment is the Selengkapnya tentangSerial Discussion on Wellbeing Instrument and Concept Development[…]

Serial Diskusi Pengembangan Konsep dan Instrumen Wellbeing

Agenda pembangunan hari ini dibangun atas asumsi bahwa ekonomi merupakan indikator utama wellbeing. Produk Domestik Bruto (PDB) masih banyak digunakan untuk mengukur pertumbuhan dan menunjukkan status/tingkat ekonomi.  Hal tersebut menyebabkan pendekatan yang saat ini populer dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah ekonomi terbuka/liberalisasi di sektor sumber daya alam, di mana investasi merupakan penggerak utamanya. Inilah kunci Selengkapnya tentangSerial Diskusi Pengembangan Konsep dan Instrumen Wellbeing[…]

Rapat Perdana Youth and Land Asia: Masa Depan yang Kita Tuntut Pengelolaan Lahan yang (LEBIH) Inklusif Bagi Anak Muda

“Kebijakan, Undang-undang, prosedur dan keputusan terkait dengan tanah cukup mencerminkan hak-hak, kebutuhan dan aspirasi individu serta masyarakat yang akan terpengaruh olehnya”  CBI on Commitment 7 (Inclusive Decision Making) Sebagai basis sumber daya yang juga terkait dengan hak asasi manusia seperti ekonomi, sosial, hak sipil dan hak politik. Akses terhadap tanah tidak seharusnya secara eksklusif terfokus Selengkapnya tentangRapat Perdana Youth and Land Asia: Masa Depan yang Kita Tuntut Pengelolaan Lahan yang (LEBIH) Inklusif Bagi Anak Muda[…]

Youth and Land Asia’s Kickoff Meeting: The Future we demand “A (MORE) inclusive Land Management for Youth”

“Policies, laws, procedures and decisions concerning land adequately reflect the rights, needs and aspirations of individuals and communities who will be affected by them” CBI on Commitment 7 (Inclusive Decision Making) As a resource base for basic human rights such as economic, social, cultural and civil and political rights, Land should not be exclusively accessed Selengkapnya tentangYouth and Land Asia’s Kickoff Meeting: The Future we demand “A (MORE) inclusive Land Management for Youth”[…]

Indigenous Peoples Community of Cibarani and Their Potentials

Kasepuhan Cibarani Indigenous Peoples are indigenous peoples who live in the administrative area of ​​Cibarani Village, Cirinten District, Lebak, Banten. According to the current village head and customary head, Dulhani, the first pupuhu or ancestor of Kasepuhan was Ama Haji Dul Patah. They had lived in their wewengkon (customary territory) long before the Dutch colonial era. The customary territory of Kasepuhan Selengkapnya tentangIndigenous Peoples Community of Cibarani and Their Potentials[…]

Masyarakat Adat Kasepuhan Cibarani dan Potensinya

Masyarakat Adat Kasepuhan Cibarani adalah masyarakat adat yang tinggal di wilayah administrasi Desa Cibarani, Kecamatan Cirinten, Lebak, Banten.  Menurut Kepala Desa sekaligus Kepala Adat saat ini, Dulhani, pupuhu atau leluhur Kasepuhan yang pertama adalah Ama Haji Dul Patah. Mereka sudah tinggal di wewengkon (wilayah adat)-nya jauh sebelum zaman kolonial Belanda. Wilayah Adat Kasepuhan Cibarani meliputi Selengkapnya tentangMasyarakat Adat Kasepuhan Cibarani dan Potensinya[…]

Serial Pertama dari Pengembangan Konsep dan Instrumen Wellbeing Definisi Konseptual

Pada hari Selasa, 3 November 2020, RMI-The Indonesian Institute for Forest and Environment, Akar Foundation, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Sajogyo Institute (Sains), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) melakukan diskusi terarah online sebagai bagian dari serial pengembangan konsep dan instrumen terkait wellbeing. Diskusi ini diikuti oleh 19 orang, termasuk narasumber ahli Selengkapnya tentangSerial Pertama dari Pengembangan Konsep dan Instrumen Wellbeing Definisi Konseptual[…]