29 Januari 2019

Jender dan Pengelolaan SDA

Apa yang Anda bayangkan apabila mendengar istilah “Petani”?

Sejak dahulu, pengelolaan sumber daya alam dilakukan bersama-sama, oleh perempuan dan laki-laki. Adalah hal yang lumrah untuk berjumpa dengan perempuan di sawah, di ladang, di bibir pantai, bersama-sama dengan laki-laki mengelola sumber daya alam. Sayangnya, pengakuan peran mereka dalam ranah pengelolaan sumber daya alam tidak banyak terjadi, sehingga, misalnya, imej petani, nelayan dan pekebun diasosiasikan dengan sosok laki-laki. Akibatnya, perempuan-perempuan pengelola sumber daya alam ini tidak banyak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak bahkan luput dalam perencanaan Pemerintah lokal hingga Nasional karena acap kali hanya dikategorikan sebagai ibu rumah tangga, seperti terlihat dalam status di kartu kependudukan mereka.

Lebih jauh lagi, permasalahan ketidakadilan jender dalam pengelolaan SDA bukan semata-mata mengenai perempuan. Permasalahan jender dalam pengelolaan SDA adalah mengenai persepsi femininitas dan maskulinitas yang ditempelkan pada aspek-aspek pengelolaan SDA di mana peran-peran maskulin lebih diperhatikan. Hal ini terjadi di setiap kelompok umur (dewasa/maskulin, anak-anak/feminim) dan kelompok sosial (elit/maskulin, non-elit/feminim) dalam masyarakat adat dan non-adat, serta antara masyarakat adat dan lokal (feminim) dengan Negara dan korporasi (maskulin). Ketidakadilan jender lalu berdampak pada ketidak-setaraan partisipasi sosial-politik lokal dan pemerataan manfaat SDA bagi keseluruhan masyarakat. Permasalahan kesetaraan jender adalah permasalahan kesetaraan sosial yang mendasar dan harus menjadi sasaran utama dalam pengorganisasian masyarakat demi pengelolaan SDA berbasis masyarakat yang lebih adil dan mensejahterakan.

Melalui berbagai pelatihan, pengorganisasian masyarakat, riset aksi, kampanye dan advokasi sejak 1995, RMI mendorong pengakuan terhadap peran-peran perempuan dan partisipasi pihak-pihak marginal lainnya dalam pengelolaan sumber daya alam.

Perempuan dan Sumber Daya Alam

Pada 21 April setiap tahunnya, Indonesia memperingati Hari Kartini. Hari besar ini dirayakan bersamaan dengan hari kelahiran seorang pahlawan nasional …

Menuju Ekonomi Mandiri, Kasepuhan Pasir Eurih Tentukan Produk Unggulan

Menggali potensi lokal menuju kemandirian desa saat ini tengah digalakkan oleh masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih. Para pemuda, perempuan, dan …

THE ASPIRATION OF KASEPUHAN INDIGENOUS YOUTH IN RIUNGAN SABAKI XI

The presence of Kasepuhan indigenous youth in Riungan Gede (Grand Meeting) hosted by Indigenous People Union of Kasepuhan Banten Kidul …