Pertemuan Regional “Jadi dan Menjadi Masyarakat Adat”

Pada tanggal 8-13 Maret 2021, RMI dan Lakoat.Kujawas dari Indonesia, beserta AFA (Asian Farmers Association for Sustainable Rural Development) dan PAKISAMA (Pambasang Kilusan ng mga Samahang Magsasaka) dari Filipina melakukan Pertemuan Regional secara online yang menjadi bagian dari inisiatif “Jadi dan Menjadi Masyarakat Adat” (Being and Becoming Indigenous atau BBI). Lebih dari 45 orang peserta, terdiri atas puluhan pemuda adat dari tiga komunitas dan pendampingnya, serta 15 orang panitia terlibat dalam pertemuan ini. Selain itu banyak juga masyarakat umum yang terlibat dalam kegiatan ini karena beberapa sesi dibuka untuk publik.

Pelaksanaan kegiatan Pertemuan Regional ini cukup unik dan menantang karena format acaranya yang mengkombinasikan metode pertukaran budaya serta peningkatan kapasitas secara online dan offline, berbeda dari kegiatan pada umumnya dilakukan secara tatap muka. Dalam penyusunan alur kegiatan, misalnya, panitia mempertimbangkan kesesuaian waktu dan metode-metode yang dapat mengoptimalkan proses pembelajaran dan mendukung kenyamanan peserta yang kebanyakan merupakan kelompok pemuda dan remaja. Selain itu, menyiasati kemungkinan hilangnya sinyal dan jaringan internet yang dapat menghambat jalannya acara, pemuda adat dari tiap komunitas sudah terlebih dahulu merekam beberapa sesi penting seperti Tur Virtual dan Pertunjukan Budaya masing-masing komunitas adat. Model Pertemuan Regional yang dilakukan dalam waktu cukup panjang (6 hari) dengan metode kegiatan online dan offline ini sendiri memang baru pertama kali dilakukan oleh komunitas dan organisasi pendampingnya.

Pertemuan 6 hari ini terbagi atas beberapa sesi besar, yaitu perkenalan peserta dan komunitas, peningkatan kapasitas yang dilakukan sesuai kebutuhan lokal (umumnya dilakukan secara offline) dan yang dilakukan untuk menjawab kebutuhan 3 komunitas (umumnya dilakukan online dengan mengundang narasumber). Sesi perkenalan komunitas dilakukan dengan menggelar sesi Pertukaran Budaya dan Tur Virtual yang memperlihatkan keunikan budaya dan lanskap komunitas adat masing-masing secara bergiliran. Materi Tur Virtual sebelumnya telah direkam oleh pemuda adat dan diunggah ke YouTube supaya dapat ditonton satu sama lain sebagai bentuk antisipasi jika terjadi gangguan sinyal dan koneksi internet selama acara.

Anak muda adat sedang memainkan kesenian lisung.

Selama Pertemuan Regional berlangsung, tercatat sedikitnya terjadi 3 kali sesi pertukaran budaya yang variatif–baik dalam tarian, nyanyian, maupun pembacaan puisi–dari setiap komunitas dan 3 kali Tur Virtual yang menunjukkan kekayaan ruang hidup mereka serta tantangan modernisasi dan pembangunan yang mereka hadapi kini.

Selain itu, pada Pertemuan Regional ini, terdapat beberapa sesi yang diisi dengan kegiatan peningkatan kapasitas bagi para pemuda adat pada tingkatan komunitas yang bentuk dan materi kegiatannya disesuaikan dengan konteks lokal. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Masyarakat Adat Pasir Eurih, Banten, Indonesia, misalnya, terdiri dari pelatihan pemanduan program ekowisata, pembelajaran mengenai kesejarahan kasepuhan, dan pelatihan pengambilan gambar dan video.

Sedangkan pelatihan kepemimpinan dan pengenalan struktur organisasi diikuti oleh Masyarakat Adat Dumagat-Remontado di Tanay, Filipina. Setiap harinya peserta dari 3 komunitas adat kemudian diajak untuk merefleksikan kegiatan yang sudah mereka lalui di hari sebelumnya dan menceritakan hal menarik yang mereka pelajari satu sama lain.

Selain yang dilakukan secara terpisah, juga terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan secara serempak melalui pemberian materi peningkatan kapasitas secara online, di antaranya adalah kegiatan berjudul “Effectively Utilizing Today’s Technological Advancement to Strengthen and Preserve Indigenous Traditions” yang dibawakan oleh Karlina Octaviany pada hari kedua, dan “Reconnect Youth and the Concept of Indigeneity” yang dibawakan oleh Mia Siscawati pada hari keempat. Topik pertama diangkat berdasarkan adanya persamaan kebutuhan bahwa masing-masing komunitas perlu mempertimbangkan dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendokumentasikan, mengkampanyekan adat mereka dan menggalang dukungan publik terhadap kondisi-kondisi yang dihadapi komunitas adat saat ini. Di sisi lain kegiatan peningkatan kapasitas kedua dihadirkan untuk memperkuat pemahaman dan kesadaran pemuda adat mengenai konsep keadatan (indigeneity) dan apa maknanya menjadi bagian dari adat (indigenous) serta mendiskusikan kenapa penting bagi pemuda adat untuk menjaga identitas keadatan mereka. Secara garis besar, dekolonisasi sendiri menjadi semangat utama yang mendasari kedua sesi tersebut serta inisiatif BBI secara keseluruhan.

Pemuda adat dari ketiga komunitas menyebutkan bahwa kegiatan Pertemuan Regional ini merupakan satu pengalaman yang menarik bagi mereka. Indi Seran (16), pemuda adat dari Mollo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, menyebutkan bahwa dirinya terkesan dengan pemutaran video musik grup idol asal Korea Selatan Bangtan Sonyeondan (BTS) yang menunjukkan bagaimana orang muda dapat menyuarakan budaya lokal, isu sosial, dan politik lewat seni. Lebih dari itu, Indi juga terdorong untuk terus bangga dengan identitas adatnya sebagai orang Mollo dan ikut bersuara untuk kehidupan sosial melalui seni budaya.

Salah satu anak muda adat sedang mempresentasikan

Opa Sopariah (19), peserta asal Kasepuhan Pasir Eurih, juga berkata bahwa dengan mengikuti kegiatan ini ia jadi makin mengenal budaya sendiri serta budaya komunitas adat lain. Saat memperkenalkan gula aren, misalnya, para pemuda adat jadi terdorong menggali informasi lebih dalam mengenai gula aren dan ternyata kelompok pemuda adat Dumagat-Remontado mengaku bahwa di lokasi mereka pemakaian tanaman aren untuk gula tidak terlalu populer. Nira kelapa menjadi pilihan utama mereka untuk diolah menjadi gula. Sedangkan untuk Mollo, ucapan penuh kekaguman dilontarkan para peserta dari 2 komunitas adat lainnya atas kain tenun Mollo yang berwarna-warni serta merepresentasikan hubungan manusia dengan alam juga filosofi hidup pada pola dan warnanya.

Dalam proses pengambilan gambar dan video yang dibutuhkan untuk sesi Tur Virtual dan Pertukaran Budaya juga terjadi hal-hal yang menarik. Peserta dari Kasepuhan Pasir Eurih menyatakan bahwa selama berkegiatan mereka belajar lebih jauh budaya-budaya mereka sendiri. “Malu, kalau ditanya orang lain masa nanti tidak tahu?”, kata Euis Sukmawati (21).
Sedangkan peserta lainnya, berkata bahwa ia baru saja belajar memukul lesung (numbuk lisung) setelah diperagakan oleh ibu-ibu. “Selama ini saya belum pernah ikutan. Cuma megang doang, tapi kalau ikutan memainkan belum pernah”. Katanya sambil tersipu. Ia mengaku bahwa dengan adanya kegiatan ini ia jadi makin akrab dengan kelompok ibu-ibu sekaligus belajar lebih dalam hal-hal terkait budaya mereka sendiri.

Kegiatan ini berakhir pada hari keenam atau 13 Maret 2021. Para peserta memutuskan untuk menindaklanjuti kegiatan yang sudah disusun bersama-sama, serta untuk tetap berkomunikasi dan merencanakan kegiatan-kegiatan virtual yang dapat diorganisir secara bersama-sama. Walaupun tergambar keletihan dari air muka peserta, namun semangat untuk bekerja bersama untuk memajukan komunitas adatnya masing-masing juga sangat kuat.

Jadi dan Menjadi Masyarakat Adat (Being and Becoming Indigenous) merupakan inisiatif yang digagas dengan tujuan untuk memperkuat persepsi dan pemahaman pemuda adat akan posisi dan identitas adatnya di tengah perkembangan pembangunan dan modernisasi. Inisiatif ini diimplementasikan oleh RMI bekerja sama dengan AFA yang berbasis di Filipina, di tiga komunitas adat yaitu Kasepuhan Pasir Eurih (Banten, Indonesia), Mollo (Nusa Tenggara Timur, Indonesia), dan Dumagat-Remontado (Tanay, Filipina). Di tingkat tapak, RMI dan AFA juga bekerja sama dengan Lakoat.Kujawas dan PAKISAMA sebagai organisasi mitra.

Penulis: Indra Nusantoro Hatasura

Editor: Supriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *