Kegiatan Penanaman Mangrove dan Kampanye Lingkungan oleh Kompilasi di Ujung Kulon

Kompilasi merupakan singkatan dari Komunitas Masyarakat Peduli Lingkungan Sekitar. Kompilasi terbentuk pada akhir tahun 2017 di Kampung Cikawung, Desa Ujungjaya, Kec. Sumur, Pandeglang-Banten. Lokasi Desa berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon. Sebagian besar anggota Kompilasi adalah pemuda

Komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah pemuda ini berdiri karena kepedulian mereka terhadap kerusakan pantai di sekitar Desa Ujungjaya, yang diakibatkan 1). Faktor alam berupa gelombang rob (pasang) yang semakin tinggi intensitasnya. Pasang menyebabkan terjadinya abrasi dan tergenangnya tanah-tanah di pekarangan.2). Faktor manusia, sehubungan alih fungsi lahan mangrove untuk perusahaan tambak udang dan pengerukan pasir pantai dengan tujuan komersil.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Kompilasi untuk mencegah kerusakan pantai adalah melalui kegiatan penanaman mangrove dan edukasi lingkungan kepada anak usia dini (anak SD dan SMP). Pada dua kegiatan ini, peserta diajak untuk mengenal tanaman mangrove, jenis-jenis dan manfaatnya bagi lingkungan. Sejak tahun 2018 lalu hingga saat ini, tidak kurang dari 25.000 pohon telah ditanam Kompilasi di area sekitar kawasan pesisir Desa Ujungjaya, Desa Tunggal Jaya dan di sekitar dan di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Pada tanggal 11 Agustus 2021, Kompilasi bekerja sama dengan RMI-Bogor menyelenggarakan kegiatan penguatan kapasitas pemuda di kawasan pesisir pantai utara Ujung Kulon. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari bertempat di kampung Katapang Desa Tunggal Jaya, Kec, Sumur Kab. Pandeglang.

Pada kegiatan hari pertama peserta melakukan observasi seputar ekosistem pantai, objeknya adalah pesisir pantai dan muara. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan menumbuhkan sikap kritis terhadap kondisi lingkungan yang ada di sekitar mereka yang saat ini terus mengalami penurunan kualitas akibat faktor alam dan aktivitas manusia. Hal menarik di sesi ini, peserta diberikan tugas melakukan identifikasi berupa observasi langsung terhadap objek, mengisi form yang sudah disediakan panitia. Obyek-obyek yang diobservasi adalah berupa lanskap, material, mahkluk hidup, tingkat dan penyebab kerusakan. Setelah lebih dari 2 jam melakukan observasi masing-masing kelompok mempresentasikan hasil observasinya. Hasil dari presentasi didiskusikan melalui tanya jawab dan pendalaman.

Pada malam hari, dilakukan pemutaran film ‘’ Tenggelam Dalam Diam” yaitu film dokumenter yang diproduksi oleh Greenpeace dan Watchdoc. Film ini mendokumentasikan kondisi pesisir utara Pulau Jawa dari Gresik hingga Tangerang yang kondisinya tanahnya sebagain sudah ada dibawah permukaan laut. Film dokumenter ini lalu menjadi bahan diskusi dengan pertanyaan kunci 1). Bagaimana kondisi ini bisa terjadi 2). Faktor apa saja yang turut serta menyumbang kerusakan. Dalam diskusi, isu pembangunan-pembangunan pabrik, pertambangan menjadi bahasan yang paling banyak diulas oleh peserta, yang diduga paling banyak menyumbang bagi kerusakan lingkungan.

Pada sesi pemutaran film, isu petisi Hak Anak Atas Lingkungan yang Sehat (Child Rights for Healthy Environment) juga dibahas. Petisi ini merupakan bagian dari usaha kolaboratif dari berbagai kelompok untuk mendorong PBB meloloskan protokol tambahan pada Child Rights Convention/Konvensi Hak Anak,terkait perlindungan anak dari kondisi-kondisi yang membahayakan perkembangan mereka terkait lingkungan seperti pencemaran udara, bahaya bahan kimia, bahaya banjir, kekeringan, dan lain-lain. Dengan mendorong perubahan ini, melalui pengumpulan petisi yang akan diteruskan kemudian di forum internasional maka masing-masing kelompok berarti sudah mengusahakan suatu perubahan yang sangat berarti. Kompilasi adalah salah satu kelompok yang berperan besar dalam pengumpulan petisi ini di Indonesia, khususnya wilayah Banten.

Selanjutnya penggalangan tanda tangan petisi dilakukan setelah usai kegiatan. Pemilihan simpul-simpul koordinator dilakukan untuk mempercepat dan memperluas jangkauan penandatangan.

Hari kedua diisi dengan penanaman mangrove jenis bakau Rhizopora mucronata yang memang cocok dengan tipologi tanah yang ada di pesisir Pantai Katapang. Pesisir ini dijadikan sasaran penanaman dengan pertimbangan karena kondisi mangrovenya nyaris hilang akibat aktivitas manusia. Lokasinya dekat pemukiman dan dampak dari Tsunami Selat Sunda tahun 2008 lalu masih terlihat.  Lokasi ini mengalami dampak terparah kedua setelah Kampung Paniis-Ujung Kulon. Pohon yang ditanam adalah sebanyak 100 pohon.

Kegiatan pada hari kedua ini adalah melanjutkan yang telah dikerjakan oleh Kompilasi tahun lalu. Sebelumnya Kompilasi telah menginisiasi gerakan penanam pohon mangrove di lokasi yang sama dengan bekerja sama dengan masyarakat setempat. Modal bibit mangrove disemai anggota Kompilasi secara swadaya.  Sebanyak 2000 pohon kini bertumbuh dengan sehat, disusul dengan yang baru ditanam.

Kegiatan Kompilasi merupakan sebuah contoh, bagaimana pemuda turut serta dalam menentukan perubahan sosial dan lingkungan, perubahan yang mereka inginkan terjadi di sekitar mereka.

 

Penulis:  Fauzan Adima

Editor : Indra NH

Diposkan dalam Tak Berkategori. Markahi permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *