Pengumuman Seleksi – Peserta Short Course Relawan Lingkungan untuk Perubahan Sosial (Batch 2)

Antusiasme kaum muda akan permasalahan lingkungan dan perubahan sosial nampak dalam banyaknya pendaftar Short Course Relawan Lingkungan untuk Perubahan Sosial Batch ke-2 yang melebihi jumlah pendaftar pada batch pertama tahun 2016 lalu. Setelah melalui proses seleksi, dari total 47 pendaftar telah dipilih 20 orang yang berhak mendapatkan beasiswa untuk mengikuti kegiatan ini. Berikut hasil seleksi tersebut: Martina Fandasari – Selengkapnya tentangPengumuman Seleksi – Peserta Short Course Relawan Lingkungan untuk Perubahan Sosial (Batch 2)[…]

Short Course – Relawan Lingkungan untuk Perubahan Sosial (Batch 2)

RMI adalah sebuah organisasi pergerakan yang memandang generasi muda, khususnya mahasiswa/i sebagai aspek penting dalam mendukung kerja-kerja sosial dan pengabdian masyarakat. Mahasiswa/i sebagai agen perubahan, akan memberikan dampak positif yang signifikan apabila peran aktifnya dapat disalurkan melalui berbagai program yang langsung berhubungan dengan masalah sosial dan lingkungan. Pada tahun 2018 ini, RMI bermaksud untuk mengadakan Selengkapnya tentangShort Course – Relawan Lingkungan untuk Perubahan Sosial (Batch 2)[…]

Glamping At Leuweng Adat: Festival Hutan Adat

Desain poster: Amanda So   Explore Leuweng Kasepuhan Karang, Lebak, Banten dengan menikmati pesona meranti, budaya lokal dan ramah tamah masyarakat adat dalam acara FESTIVAL HUTAN ADAT. Festival ini merupakan acara yang digelar untuk memperingati satu tahun pengembalian wilayah hutan masyarakat adat sejak ditetapkan Putusan Mahkamah Konsitusi No.35 tahun 2012 yang menyangkut konstitusionalitas hutan adat. Selengkapnya tentangGlamping At Leuweng Adat: Festival Hutan Adat[…]

Piknik Kopi Ciwaluh Robusta – Sep 2017

Piknik Kopi ☕ sambil jalan-jalan #NaikKeretaApi ke perbatasan Bogor – Sukabumi. Menyeruput secangkir #robusta #Ciwaluh langsung dari kebunnya, dan menikmati keindahan #Airterjun#Ciwaitali di Kampung Ciwaluh kaki Gunung Gede Pangrango Bogor. Biaya Rp 350.000 (inc. transport, makan siang, souvenir). Kouta terbatas. Booking kursimu sebelum 18 Sept 2017 ke Siti Nursolihat [085779343200] See you on 30 September 2017! #PiknikKopi #AyoBalikKampung      Agenda: 07.00-07.30 Meeting point dan registrasi di Stasiun Selengkapnya tentangPiknik Kopi Ciwaluh Robusta – Sep 2017[…]

Seminar And Workshop On Youth & Land

A seminar on Youth and Land as part of the discussions on agrarian issues will be organised in Bogor, Aug 10 2017. Keynote speaker is Benjamin White, the professor of Rural Sociology at the ISS, the Hague, the Netherlands. Speaking about “Youth, Land and Farming Futures”, Prof. White will talk about the generational problems in Selengkapnya tentangSeminar And Workshop On Youth & Land[…]

Next Coffee Picnic – Feb, 2017

Coffee Picnic is a short and relaxing escape from the busy city life. You’ll enjoy the lush of countryside filled with coffee trees in the forest-garden of villagers in the Ciwaluh Hamlet, side to side with the paddy fields and clean river of Cisadane. Apart from the trekking, enjoy sessions with coffee farmers, discussions with Selengkapnya tentangNext Coffee Picnic – Feb, 2017[…]

Short courseShort course

Relawan Lingkungan Untuk Perubahan Sosial Sejak pendiriannya di tahun 1992, RMI belajar dan bekerja bersama banyak mahasiswa. Melalui berbagai program seperti Pendidikan Lingkungan Hidup, Riset Aksi, Pengorganisasian Masyarakat dan Kampanye-kampanye lingkungan, RMI memandang generasi muda, khususnya mahasiswa, sebagai komponen penting dalam mendukung kerja-kerja sosial dan pengabdian masyarakat. Mahasiswa sebagai agen perubahan, akan memberikan dampak positif Selengkapnya tentangShort courseShort course[…]

Petani di Kaki Gunung Pangrango Peta-kan Lahan GarapanPetani di Kaki Gunung Pangrango Peta-kan Lahan Garapan

Hendra sudah bersiap dengan pakaian yang biasa ia kenakan ke kebun. Kemeja lusuh, dengan beberapa tambalan.  Topi rimba, dengan tas ransel yang talinya banyak yang putus, beberapa bagian kainnya sudah mengelupas, serta resleting yang tidak lagi berfungsi dengan baik. Celana kain yang ujungnya dimasukkan kedalam sepatu karet, sepatu boot. Golok yang terikat dengan tali plastik, Selengkapnya tentangPetani di Kaki Gunung Pangrango Peta-kan Lahan GarapanPetani di Kaki Gunung Pangrango Peta-kan Lahan Garapan[…]

Cisadane River Watch

CRW (Cisadane River Watch) adalah komunitas yang dibentuk untuk meningkatkan rasa peduli masyarakat terhadap Sungai Cisadane di Jawa Barat (Indonesia). Kelompok ini  beranggotakan  Guru, Pelajar Sekolah, dan Komunitas Masyarakat. Aktifitas CRW dan kelompoknya berada di tiga wilayahaliran Sungai Cisadane, yaitu:
Hulu Sungai Cisadane di perbatasan Sukabumi-Bogor, dengan kelompok yang terlibat:
SMAN 1 Cigombong, SMA Harapan Bangsa, MTs.Mazro’atussibyan, dan Komunitas Lindalang.
2.      Bagian tengah Sungai Cisadane di bagian Kota Bogor, dengan kelompok yang terlibat:  SMP 13, SMA Plus BBS (Bina Bangsa Sejahtera), SMA Kornita IPB dan Komunitas JERAMI (Jejak Ramah Bumi).
3.      Bagian hilir Sungai Cisadane di bagian Kota Tanggerang, yaitu:  SMA N 12 Tanggerang dan Komunitas Tabur Mangrove.
Inisiasi CRW berawal dari aktifitas pelatihan biomonitoring yang diadakan pada bulan Januari 2014 di Bogor oleh Yayasan RMI (Rimbawan Muda Indonesia), dimana pelatihan ini diikuti oleh tujuh sekolah dari Kota Bogor dan Tangerang.
Pembentukan Cisadane River Watch ini adalah bagian dari RTL (Rencana Tindak Lanjut) dari pelatihan biomonitoring tersebut.  Biomonitoring  sendiri adalah sebutan bagi salah satu metode untuk mengukur kualitas air berdasarkan keberadaan makhluk hidup tertentu (umumnya adalah invertebrata sebagai bioindikator air). Metode biomonitoring dipergunakan karena alasan kemudahan dan kepraktisan dalam mempraktikannya. Dengan buku panduan, sedikit pembekalan dengan mudah siswa-siswi dapat mengukur ketercemaran suatu lokasi perairan.
Ke tujuh sekolah yang mengikuti pelatihan biomonitoring, berkomitmen untuk melakukan aktifitas biomonitoring sebulan sekali.
Jeda sebulan setelah pelatihan biomonitoring tersebut, kami (Mahmud dan Rahma) yang menjadi koordinator CRW melakukan monitoringing kegiatan di wilayah hulu, tengah dan hilir Sungai Cisadane tersebut. Kegiatan monitoring ini juga berguna untuk melihat kebutuhan-kebutuhan lain yang diperlukan oleh sekolah atau kelompok masyarakat dimana mereka berada. Sebagai hasil adalah masukan bagi kegiatan CRW yang akan diusulkan kepada sekolah / kelompok tersebut.
Sebagai contoh adalah bahwa dari hasil monitoring didapatkan bahwa di sekolah-sekolah ternyata posisi guru umumnya masih belum cukup kuat untuk dapat menentukan kebijakan di sekolah. Sebagai masukan kepada tim CRW adalah perlunya diselenggarakan pelatihan kembali bagi guru-guru atau Kepala Sekolah yang diinginkan terlibat pada komunitas ini, untuk memperkuat komitmen serta melengkapi peserta dengan strategi yang tepat dalam beraktifitas.
Masing-masing komunitas memang memiliki kekhasannya masing-masing. Sebagai contoh misalnya komunitas LINDALANG (Lingkungan Daur Ulang), yang memilii fokus kegiatan daur ulang sampah, dimana sampah plastik diubah menjadi barang yang mempunyai harga jual. Di wilayah tengah ada SMP 13 yang sudah fokus melakukan kegiatan Penanaman, pengelolaan sampah  dan kegiata-kegiatan untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan kepada siswa di sekolah. Di wilayah hilir Sungai Cisadane misalnya ada SMAN 12 Teluk Naga, dimana sekolah ini melakukan kegiatan penanaman sayur organik dan memiliki  harapan dapat membuat bank sampah untuk mengatasi masalah sampah di sekolah.
Dari apa yang diharapkan terjadi yaitu mendapatkan data kualitas sungai yang berasal dari bagian hulu tengah dan hilir Sungai Cisadane, memang belum semuanya tercapai. Ada komunitas yang kemudian tidak dapat melanjutkan kegiatan (biasanya dikarenakan kesibukan dari komunitas itu sendiri dan kurangnya persamaan kepentingannya dengan tujuan CRW); namun di sisi lain muncul juga komunitas baru yang pada awal pembentukan CRW tidak ada namun kemudian muncul akibat kesamaan kepentingan seperti halnya komunitas sekolah di SMPN 13 Bogor. Semuanya merupakan dinamika dalam kegiatan ini.
Ada harapan bahwa kegiatan CRW bagi kelompok-kelompok yang bergabung merupakan suatu awalan untuk gerakan lingkungan yang lebih besar. Bagi sekolah, misalnya diharapkan bahwa kegiatan seperti pemantauan lingkungan bisa terintegrasi dengan kurikulum pelajaran, untuk menanamkan rasa cinta lingkungan kepada anak-anak. Bagi kelompok masyarakat, diharapkan kegiatan ini bisa membuat kelompok semakin bersatu, kuat dan bisa menyebarkan virus-virus pergerakan di masyarakat.
Apabila sesuatu yang kecil dilakukan oleh banyak orang, kami percaya bahwa sesuatu yang besar akan terjadi.

CRW (Cisadane River Watch) adalah komunitas yang dibentuk untuk meningkatkan rasa peduli masyarakat terhadap Sungai Cisadane di Jawa Barat (Indonesia). Kelompok ini  beranggotakan  Guru, Pelajar Sekolah, dan Komunitas Masyarakat. Aktifitas CRW dan kelompoknya berada di tiga wilayahaliran Sungai Cisadane, yaitu:
  1. Hulu Sungai Cisadane di perbatasan Sukabumi-Bogor, dengan kelompok yang terlibat: SMAN 1 Cigombong, SMA Harapan Bangsa, MTs.Mazro’atussibyan, dan Komunitas Lindalang.
  2. Bagian tengah Sungai Cisadane di bagian Kota Bogor, dengan kelompok yang terlibat:  SMP 13, SMA Plus BBS (Bina Bangsa Sejahtera), SMA Kornita IPB dan Komunitas JERAMI (Jejak Ramah Bumi).
  3. Bagian hilir Sungai Cisadane di bagian Kota Tanggerang, yaitu:  SMA N 12 Tanggerang dan Komunitas Tabur Mangrove. […]

Cisadane River Watch: Biopori di SMAN Cigombong

Pertemuan keempat pada 13 November 2014 ini merupakan tindak lanjut pertemuan bulan September lalu. Ada tiga komunitas ekstra kurikuler SMAN Cigombong yang aktif berkegiatan dan tergabung dalam Cisadane River Watch yakni Pecil (Pecinta Lingkungan), KIR, dan KPA Langlang Buana. Namun pada pertemuan kali ini hanya tim KIR dan siswa kelas 12 yang mengikuti kegiatan karena kelompok lain berhalangan (bentrok dengan agenda lain). Pada awalnya kegiatan yang direncanakan yaitu penanaman/penghijauan namun masih butuh persiapan yang matang. Maka pembuatan lubang biopori disepakati menjadi tahap awal kegiatan yang bisa dilakukan.

biobio1Seperti diketahui jika biopori (LRB/Lubang Resapan Biopori) diperkenalkan oleh Dr.Kamir R.Brata (Departemen Konservasi Tanah dan Air IPB). Alat pembuat lubang dibuat dari batang pipa besi ukuran ¾ inci dengan mata bor tanah pada ujung bawah alat dengan lebar sesuai dengan diameter lubang yang diinginkan. Alat ini sudah dibuat oleh Dr.Kamir R.Brata sejak tahun 1976 dan ketika terjadi banjir di Jakarta tahun 2007, beliau sangat gencar memperkenalkan metode ini pada masyarakat termasuk akademisi dan Pemda (Kompas/8 Maret 2008). […]